Menjawab pertanyaan VOA Kamis lalu (3/12), juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah mengatakan pihaknya masih terus memantau perkembangan yang “berpotensi menimbulkan tantangan tersendiri di kawasan.”

Menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik merupakan komitmen bersama negara-negara yang berkepentingan langsung, dan juga yang memiliki interaksi kuat dengan kawasan itu; dan “Indonesia yakin Amerika adalah salah satu dari banyak negara yang menginginkan stabilitas dan kepastian perdamaian di kawasan itu,” ujar Faizasyah.

“Imbauan Indonesia adalah agar kita bersama-sama membangun kondisi lingkungan regional yang kondusif, tidak menciptakan ketegangan baru sehingga harapan bersama adanya suatu kawasan yang mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik, stabil dan berkontribusi kemakmuran dunia tercapai. Ini yang menjadi obsesi bersama negara-negara yang terdapat di Indo-Pasifik, termasuk juga dalam hal ini Amerika, China dan negara-negara lain… Untuk itu, kita bersama memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik ini,” tambahnya.

Teuku Faizasyah. (Foto: IG/KBRI Yangon)

Ketika ditanya lebih jauh apakah Indonesia telah berkomunikasi dengan Amerika dan Australia terkait hal ini, Faizasyah mengatakan “komunikasi telah dilakukan dengan berbagai pihak menyangkut perkembangan ini.” Namun ia tidak merinci lebih jauh.

AS Berencana Kirim Enam Pesawat Pembom B52

Stasiun televisi Australia ABC awal pekan ini melaporkan Amerika berencana mengerahkan enam pesawat pembom B52 yang berkemampuan nuklir ke Pangkalan Angkatan Udara Australia di bagian utara Australia, yang terletak sekitar 320 kilometer tenggara Darwin. Kantor berita Reuters melaporkan ketegangan dengan China menjadi salah satu alasan penempatan enam pesawat pembom B52 ini. Amerika bahkan telah berkomitmen menghabiskan US$ 1 milliar atau Rp 15,59 trilliun untuk meningkatkan aset militernya di kawasan itu.

Juru bicara Pentagon Brigjen, Pat Ryder, menjawab pertanyaan wartawan hari Senin (31/10) mengatakan Amerika telah sejak lama memiliki hubungan dengan Australia dan “bukan merupakan hal aneh ketika kami mengirim pesawat untuk ikut serta dalam latihan bersama, latihan gabungan di Australia.”

China Berang

Namun langkah ini menimbulkan kemarahan China, yang menuduh Amerika memicu ketegangan di kawasan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian, Senin (31/10) menyebut langkah Amerika itu “sangat merusak stabilitas dan perdamaian di kawasan, dan dapat memicu perlombaan senjata di kawasan itu.”

Lebih jauh ia mendesak pihak-pihak terkait untuk meninggalkan era Perang Dingin yang sudah ketinggalan jaman dan mentalitas “zero-sum,” serta pemikiran geopolitik yang picik; dengan “melakukan sesuatu yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas dengan meningkatkan rasa saling percaya antar negara.”

Hal Lazim

Pengamat hubungan internasional di Universitas Indonesia Dr. Suzie Sudarman mengatakan penempatan pesawat atau piranti lain dalam kerangka kerjasama antar-negara merupakan “suatu hal yang lazim.” Ia merujuk pada pernyataan Duta Besar Amerika di Australia Caroline Kennedy.

“Ia memang tidak mengomentari langsung rencana penempatan B52 di Australia, tetapi ia mengatakan bahwa Amerika berkomitmen mendukung perdamaian dan stabilitas di kawasan lewat diplomasi, dialog dan langkah pencegahan atau tindakan penggentaran,” imbuhnya.

Suzie secara terbuka mengatakan kawasan Indo-Pasifik “memang sedang mengalami peningkatan ketegangan” dan karena itu “Amerika bekerjasama dengan mitra dan sekutunya untuk memastikan kawasan Indo-Pasifik yang aman.”

Pesawat pembom Amerika telah berulangkali terbang ke Australia sejak awal tahun 1980an, dan melakukan latihan bersama di Australia sejak tahun 2005. [em/fw]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.