Sarinam (tengah) Wakil Direktur Komersial ASW Foods, saat menerima penghargaan IBBA 2022.

Pemulihan ekonomi pascapandemi turut meningkatkan konsumsi masyarakat, khususnya pada produk-produk sektor fast moving consumer goods (FMCG). Tidak terkecuali pada produk yang dikeluarkan oleh PT Asia Sakti Wahid Foods Manufacture, yang dikenal dengan nama ASW Foods, perusahaan yang didirikan di Medan, Sumatera Utara, pada 1978. Salah satu produknya yang populer adalah Malkist Kelapa dengan merek Hatari.

Dalam ajang IBBA 2022, biskuit merek Hatari berhasil meraih penghargaan Platinum Brand. Varian produk Hatari See Hong Puff Kelapa sukses melampaui para pesaing, yaitu merek-merek raksasa biskuit Tanah Air: malkist kelapa Khong Guan, Gery dari Garuda Food, dan Roma dari Mayora.

Menurut Sarinam, Wakil Direktur Komersial ASW Foods, untuk terus memopulerkan produknya, pihaknya menjalankan kampanye iklan, baik secara above the line maupun below the line. “Kami menjalankan semua aktivitas marketing secara masif, melalui iklan televisi, media sosial, hingga event promo nasional dengan kampanye Gebyar Hatari Miliaran Rupiah,” ungkap Sarinam. Dalam langkah kampanye itu, pihaknya tetap konsisten mengusung identitas produk dengan kemasan didominasi warna hijau.

Sarinam menyebutkan, kampanye Gebyar Hatari Miliaran Rupiah sejalan dengan visi-misi perusahaan untuk menjadi perusahaan FMCG yang diakui, serta memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat luas. “Program ini didedikasikan untuk seluruh konsumen setia Hatari Biskuit untuk berkesempatan memenangkan berbagai hadiah,” katanya.

Untuk mendistribusikan produk Hatari See Hong Puff Kelapa ke seantero Tanah Air, ASW Foods menggunakan sistem multidistributor. Alasannya, dapat lebih menghemat biaya dan bisa mengetahui keberadaan produk di pasar secara lebih cepat dan terjamin.

“Tantangannya adalah bagaimana konsumen tetap membeli produk kami dengan adanya kenaikan harga.”

Sarinam, Wakil Direktur Komersial ASW Foods

Saat ini, ASW Foods sudah memiliki jaringan distribusi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, perusahaan yang telah mengantongi sertifikasi internasional Food Safety System Certification ini sudah melakukan ekspor ke kurang-lebih 44 negara.

Meski begitu, perusahaan ini tidak terlepas dari berbagai tantangan akibat krisis global dengan adanya perang antara Rusia dan Ukraina yang mengakibatkan biaya gandum (bahan baku penting) naik, dan pada akhirnya menyebabkan biaya modal perusahaan naik. “Tantangannya adalah bagaimana konsumen tetap membeli produk kami dengan adanya kenaikan harga,” kata Sarinam.

Namun, menurut Sarinam, buat perusahaannya, kualitas adalah elemen yang tidak bisa ditawar-tawar demi menjaga kepuasan pelanggan. “Di era digital, suara konsumen akan cepat sekali menyebar, ada yang positif dan negatif,” ujarnya. Untuk hal-hal yang yang negatif, ia menambahkan, perusahaannya mempunyai wadah customer care agar keluhan pelanggan dapat ditampung untuk perbaikan ke depannya. (*)

Anastasia AS & Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.