Ilustrasi foto : Istimewa

Perusahaan perlu membekali diri untuk mengidentifikasi dan mencegah penipuan di dunia bisnis atau fraud. Berdasarkan survei Tindak Kriminal Ekonomi dan Penipuan Global 2020 oleh PwC, sebanyak 42% perusahaan yang berbasis di Singapura telah menjadi korban penipuanselama 24 bulan, dengan 23% di antaranya mengalami kerugian kumulatif senilai lebih dari US$ 50 juta akibat penipuan, lebih tinggi dibanding tingkat global pada 13%. Posisi penting Singapura sebagai pusat finansial di Asia Tenggara kemungkinan besar menjadi faktor pendorong utama meningkatnya tindak kriminal ekonomi yang dilaporkan.

Greg Crowl, Director of Sales Engineering, Asia Pasifik & JepangKofax menjabarkan tipe penipuan yang umum terjadi dan meningkat di pasar ASEAN antara lain: penyalahgunaan aset, laporan keuangan yang menyesatkan, dan penipuan berkas lamaran kerja. Tingginya frekuensi penipuantersebut disebabkan oleh kurangnya kesadaran terhadap penipuandan standar literasi digital yang rendah. Menurut statistic CyberSource, penipuan telah menyebabkan kerugian paling tidak 1,6% dari pendapatan digital di Asia Tenggara, dengan Indonesia di posisi teratas (3,2%).

Perusahaan papan atas pun masih bisa lengah. Amazon, yang dianggap standar dalam menjalankan bisnis yang sukses, mengalami kerugian US$ 19 juta akibat penipuan. Facebook dan Google juga rugi US$ 100 juta karena faktur palsu yang dikirim melalui skema pengelabuan dengan surel (phishing). “Penipu mengincar pula usaha kecil dan menengah (UKM) maupun perusahaan multinasional. Dengan demikian, sistem pertahanan di suatu perusahaan harus selalu terkini. Contohnya, lembaga keuangan harus mematuhi regulasi yang kompleks dan terus berubah dari pemerintah. Dengan ditambah transformasi masa usia pelanggan yang sedang berlangsung, melindungi bisnis dari aktivitas penipuanpun kini jadi amat menantang,” tutur Crowl dalam pernyataanya di Jakarta, baru-baru ini.

Untungnya, lanjut Crowl, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah untuk melawan penipuan dan memenuhi kebutuhan dalam mengenal pelanggan (know your customer/KYC). Sejak lama, pendeteksian dan pencegahan penipuandidasarkan pada pendekatan tiga pilar berupa manusia, proses, dan teknologi. Walaupun ketiga elemen tersebut masih krusial, semakin kompleksnya skema penipuanmenuntut peningkatan fokus pada aspek teknologi.

Elemen manusia masih berperan penting, tetapi semakin sulit bagi mata manusia untuk mendeteksi penipuan, mengingat skemanya yang makin canggih. Peran proses juga tidak akan hilang, tetapi kini fungsi utamanya adalah menghubungkan manusia dan teknologi sehingga dapat saling mendukung ketimbang berfungsi sendiri-sendiri.

Teknik baru kini tersedia, yang membuatnya tangguh menangkal fraud. Contohnya, otomatisasi Accounts Payable (AP). ”Automasi AP cerdas adalah senjata modern yang dapat digunakan lembaga keuangan untuk mencegah penipuan.

Automasi AP dapat mentransformasi accounts payable dengan mencegah kesalahan terkait pekerjaan manual dan membantu staf AP agar lebih mendukung tim kepatuhan dan manajemen risiko dalam menegakkan kebijakan, mengidentifikasi potensi bahaya, dan mengeskalasi isu secara internal,” ujar Crowl.

Pertahanan yang kuat terhadap aktivitas penipuan terdiri dari sejumlah teknologi yang memastikan kecerdasan automasi AP. Sebagai permulaan, pemrosesan faktur terautomasi akan menghemat waktu dan mencegah kesalahan yang disebabkan faktor manusia. Pemasok dapat mengirim faktur dalam format yang mereka inginkan melalui fitur pindaian faktur multi-kanal.

Teknologi kecerdasan buatan akan memindai dan menganalisis faktur yang masuk, menentukan tata letak dokumen, dan mengekstraksi informasi yang diperlukan. Arsip faktur elektronik, yang mencakup dokumen finansial lainnya, akan tersedia berkat solusi alur kerja dan pencitraan. Orkestrasi proses akan otomatis mengirimkan perkecualian kepada karyawan manusia AP untuk dikaji dan disetujui.  

Teknologi ini juga menghasilkan jejak kepemilikan dokumen, dengan melacak aksi dan penyerahan antara pekerja manusia dan digital. Beberapa solusi automasi AP cerdas dari penyedianya sudah memiliki fitur inteligensi dari awal. Solusi-solusi tersebut bahkan dapat secara otomatis mendeteksi item untuk diekstraksi dari suatu faktur dan apabila bukti pembayaran telah dimanipulasi.

Swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.