Pemerintah di enam negara ASEAN atau ASEAN-6 yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam menurut DBS Bank Ltd (Bank DBS) menunjukkan kembali ke sikap konsolidasi tahun ini,. Bank DBS pun memperkirakan defisit fiskal akan menyempit lebih lanjut pada tahun 2023, meski defisit juga diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan dengan masa sebelum pandemi Covid-19.

Perlunya penyempitan defisit fiskal disampaikan oleh Ekonom Senior Bank DBS, Radhika Rao antara lain karena untuk menjaga kebijakan fiskal agar selaras dengan perubahan kebijakan moneter yaitu suku bunga acuan rendah, melengkapi upaya untuk menekan inflasi dan ekspektasi inflasi, dan menjaga agar kondisi fiskal dan posisi utang tidak memburuk seiring dengan kenaikan bunga pinjaman.

“Pemerintah menghadapi masalah pelik tahun depan, terkait kecepatan penurunan defisit karena pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat,” ujar Radhika dalam laporan resmi Bank DBS yang diterima Alinea.id, Jumat (25/11).

Radhika menilai, pendapatan fiskal akan menurun karena penurunan pertumbuhan ekonomi yang berisiko terhadap pendapatan serta pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Ini tentu akan membekukan kondisi bisnis, konsumen, perdagangan, dan pengumpulan pajak terkait menjadi lebih sulit. Indonesia dan Malaysia mencatatkan pendapatan pajak terendah sebagai persentase PDB di antara negara lain.

“Porsi Indonesia mencapai sekitar 10% dari PDB, sementara Malaysia berkisar 11% dalam beberapa tahun terakhir,” kata Radhika.

Tapi Radhika optimistis Indonesia dan Singapura akan catatkan peningkatan paling besar dalam kondisi fiskal di tahun 2023, kembali ke saldo bersih mendekati tingkat sebelum pandemi. Secara khusus, neraca fiskal Singapura akan kembali di bawah -3% dari PDB yang dimandatkan, setelah merosot hingga 6% selama pandemi.

Indonesia untuk sementara membekukan ambang batas defisit dan utang yang diamanatkan sejak 2020, selama masa pandemi, tetapi berkomitmen untuk mengembalikan ambang batas tersebut pada 2023. Oleh karena itu, defisit tahun depan diproyeksikan sebesar -2,84% dari PDB, di bawah batas atas 3% dari perkiraan -3,5% dari PDB tahun ini.

“Asumsi ekonomi untuk PDB 2023 dan inflasi masing-masing sebesar 5,3% dan 3,6%. Sementara ekspektasi pertumbuhan tertahan, perkiraan inflasi kemungkinan bisa di atas target,” lanjutnya.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.