“Cukup dalam artian tidak kekurangan, namun tidak berlebihan, supaya tidak mubazir,” katanya, kepada Alinea.id, Sabtu (10/9). 

Sebab, dengan menjual barang curah, pembeli dapat menakar sendiri seberapa banyak kebutuhannya. Adapun produk yang dijual antara lain bumbu dapur, bahan pangan, pembersih multi fungsi, barang-barang perawatan pribadi (sabun, sampo, dan lainnya), hingga pernak-pernik atau kerajinan dengan bahan pakai ulang atau bahan alami. Tentunya, semua barang-barang tersebut dijual tanpa kemasan juga. 

“Kami tidak menyediakan kemasan atau wadah sama sekali di sini, baik yang dari kertas, kaca, atau yang lainnya. Makanya pembeli harus bawa wadahnya sendiri. Ini juga bisa lebih hemat, karena mereka enggak beli-beli wadah lagi,” kata dia.

Menurut Adi, komponen kemasan pada barang-barang yang dijual di pasaran biasanya mencapai 5-10% dari total harga barang. Adi pun mengaku bahwa keuntungannya dalam menjalankan toko curah minim sampah ini tidak sebesar saat menjalankan toko konvensional.

Namun demikian, ia tak terlalu mempermasalahkan keuntungan, karena misi utamanya saat mendirikan toko curah adalah mengedukasi masyarakat untuk menjaga lingkungan, utamanya mengurangi sampah kemasan dan sisa makanan. 

Namun demikian, untuk menarik minat masyarakat, Adi dan dua temannya, Ridha Zaki dan Desiree Irawati berusaha untuk menjual barang dengan harga lebih murah dari produk serupa di minimarket atau supermarket. Tidak hanya itu, Saruga pun banyak menggandeng pengrajin hingga pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal untuk menyuplai barang-barangnya. 

“Untuk ini, kami belum bisa beli putus. Jadi kami akan sediakan tempat dan media. Kalau produknya laku, bagi untung,” jelasnya. 

Adi mengaku, untuk menekuni bisnis ramah lingkungan ini bukanlah hal mudah. Selain karena masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya menjaga lingkungan, Saruga pun masih harus bangkit dari dampak pagebluk. 

Alumni Universitas Trisakti ini mengaku, pada puncak pandemi Covid-19 2020 lalu, penjualan Saruga sempat mengalami penurunan hingga 60%. Karena adanya kebijakan pembatasan sosial. Dengan kondisi itu juga memaksa Saruga untuk menutup dua cabangnya. 

“Tapi sekarang sudah mulai normal lagi. Sekarang penjualan sudah naik sekitar 20% dari puncak pandemi dulu,” beber dia. 

Dengan menggebu, Adi bertekad akan terus memperbanyak cabang-cabang Saruga kembali. Tidak hanya itu, dia juga ingin mengembangkan lagi digitalisasi dispenser Saruga untuk memudahkan pelanggan. 

“Untuk tahun ini, kami masih berfokus untuk mengembangkan 10 toko mitra Saruga yang ada di Jabodetabek. Saya juga berharap agar akan semakin banyak lagi toko-toko seperti Saruga,” lanjut Adi. 

Alinea.id juga berkesempatan untuk berkunjung ke bulk store lain di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Naked Inc. Toko curah ini juga menjual beragam produk mulai dari bahan makanan seperti beras, sereal, biji-bijian, bumbu-bumbuan, minyak, bahkan sayuran dan buah. Ada pula sudut yang berisi produk isi ulang, seperti sabun mandi dan sampo, sabun cuci pakaian dan piring, pembersih lantai, hingga desinfektan dan hand sanitizer. 

Selain itu, toko ini juga menjual barang-barang atau kerajinan yang dibuat dari bahan alami seperti spons mandi yang terbuat dari loofah, sabun mandi dan sabun cuci dari biji lerak, sampai deodoran dari batu tawas. Selanjutnya, ada barang yang dibuat dari bahan bekas, seperti tas dan keranjang belanja pakai ulang.
 
Naked Inc, toko curah ini memang nampak seperti toko biasa dengan halaman cukup luas. Namun, ketika masuk ke dalam toko, barang curah yang dijualnya tersusun rapi di dalam stoples kaca di atas rak-rak kayu. Sedangkan barang-barang buatan tangan maupun eko kit ditempatkan pada keranjang anyaman. 

Berawal dari kegelisahan

Zero Waste Indonesia menyebut bulk store atau yang disebut juga zero waste shop sebagai toko yang menerapkan konsep zero waste alias bebas sampah. Pendiri sekaligus pemilik Naked Inc Kiana Lee mengisahkan, toko curah ini merupakan buah dari kegelisahannya akan banyaknya onggokan sampah di sudut-sudut Jakarta. Bahkan sebagian sampah yang ada, terutama sampah kemasan dan sisa makanan banyak hanyut di aliran sungai dan berakhir di laut. 

“Dengan toko ini, kami berharap setidaknya bisa mengurangi sampah kemasan. Sesuai dengan nama toko kami Naked, yang memang kami menjual barang-barang tanpa kemasan,” bebernya, kepada Alinea.id, Rabu (7/9).

Sumber sampah nasional 2021

Sumber Sampah

Jumlah (Ton)

Porsi (%)

Rumah Tangga

1.618,16

41,41

Perkantoran

263,82

6,75

Perniagaan

756,34

19,35

Pasar

614,51

15,73

Fasilitas Publik

263,38

6,74

Kawasan

253,61

6,49

Lainnya

138,12

3,53

Sumber: Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Selain tidak mengemas produk-produk yang dijualnya dalam plastik, Kiana juga menyarankan pembeli agar membawa wadahnya sendiri. Hal ini sekaligus menjadi edukasi pada konsumen untuk memperpanjang masa pakai dari barang-barang yang mereka miliki atau reuse.

“Jadi, kalau Anda mau belanja, pakai aja wadah kayak tempat bekas es krim, atau botol sisa minuman sebagai wadah untuk belanja di sini. Jangan lupa juga bawa tas kain atau keranjang belanja,” imbuhnya.

Kiana mengaku mendirikan Naked Inc bermodal nekat. Mulanya, perempuan 36 tahun ini memang sempat maju mundur untuk mendirikan bulk store. Musababnya, karena pada 2019, tahun berdirinya Naked Inc, masih belum banyak pegiat gaya hidup ramah lingkungan. 

Bahkan, ketika toko curah ini resmi berdiri pada April tiga tahun lalu, banyak yang menganggap konsep yang diterapkannya sangat tidak praktis. Namun, semua berubah ketika pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia pada awal 2020 lalu. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan pun semakin besar. 

Kini, Naked Inc. pun tak perlu lagi mengkhawatirkan pasar produk curah dan eko kit mereka, karena sudah ada pelanggan setia yang datang berkala. Bahkan, untuk menjaga komitmen pengurangan sampah kemasan, Kiana kini berani mengambil langkah untuk mengenakan tarif berbayar untuk tiap kemasan yang dibeli pelanggan di tokonya. Untuk setiap kemasan kantong kertas kecil dihargai sebesar Rp3.500.
 
“Kalau tidak begitu, pembeli masih akan terus tidak membawa wadah sendiri. Padahal kan meskipun dari kertas, sama saja sia-sia dan bisa jadi sampah, kalau dibiarkan menumpuk begitu saja,” tegas dia. 

Terbesar ketiga

Permasalahan sampah, apalagi sampah plastik memang tidak bisa disepelekan begitu saja. Mengingat Indonesia masih masuk ke dalam peringkat tiga besar, sebagai negara yang menghasilkan sampah plastik terbesar di dunia. 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan, pada 2021 Indonesia menghasilkan 68,5 juta ton timbulan sampah. Sebanyak 17% di antaranya atau sekitar 11,6 juta ton merupakan sampah plastik. Bahkan, data lain yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, Indonesia setidaknya menghasilkan limbah plastik hingga 66 juta ton per tahun. 

Sementara dari hasil penelitian Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesia Plastic Recyclers (IPR) yang dilakukan pada 2020 lalu, menemukan fakta bahwa daerah perkotaan di Pulau Jawa saja memproduksi sampah plastik kemasan sekitar 189.000 ton per bulan atau 6.300 ton per hari. Namun, dari total produksi sampah tersebut hanya 11,83% atau sekitar 22.000 ton per bulan saja yang didaur ulang. 

Komposisi sampah Indonesia 2021

Jenis Sampah

Jumlah (Ton)

Porsi (%)

Sisa Makanan

46,61

28,69

Kayu-Ranting

20,39

12,55

Kertas-Karton

19,98

12,3

Plastik

25,94

15,97

Logam

10,80

6,65

Kain

10,38

6,4

Karet-kulit

5,57

3,43

Kaca

10,20

6,28

Lainnya

12,55

7,73

Sumber: Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kasubdit Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah KLHK Ujang Solihin Sidik mengakui, sampah plastik memang masih belum bisa dikelola dengan baik. Hal ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya produksi kemasan plastik oleh industri dan rumah tangga. Namun, di saat yang sama daur ulang plastik kemasan masih sangat kecil. 

“PET (Polyethylene Terephthalate-red) misalnya yang kebanyakan dari botol kemasan. Ini yang didaur ulang sangat sedikit, kebanyakan justru menjadi polutan atau sampah buat lingkungan,” kata dia, saat dihubungi Alinea.id, Senin (12/9). 

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Divisi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Fajri Fadil mengungkapkan, sampah plastik kini telah menjadi persoalan serius. Spektrum permasalahan sampah plastik pun sudah sangat luas, dari hulu sampai hilir. 

“Dari natural resources, industri, retail, semua berpotensi menghasilkan plastik,” katanya, kepada Alinea.id, Jumat (9/9). 

Karenanya, untuk mengatasi masalah ini, perlu kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari industri, konsumen, hingga pemerintah pusat dan daerah. Dari sisi pemerintah, kata Fadil, sebenarnya sudah ada regulasi yang lumayan apik, yakni Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. 

Dalam beleid ini, pemerintah telah berupaya menyelesaikan masalah sampah, termasuk plastik sejak fase produksi, hingga selesai konsumsi. Namun, pihaknya merasa bahwa pemerintah masih harus memperketat produksi dan konsumsi plastik. 

“Kalau dari negara tidak ada pengetatan produksi dan konsumsi plastik, maka sampah-sampah plastik ini juga akan semakin banyak yang berakhir di tempat pembuangan sampah akhir (TPA) atau bahkan laut,” imbuhnya. 

Di saat yang sama, dirinya juga mengusulkan agar pemerintah dapat menerapkan kewajiban bagi produsen terkait desain ulang produk atau peralihan menuju sistem guna ulang. Sementara dari sisi produsen, Fadil menyarankan agar dunia usaha, utamanya toko-toko ritel dapat menerapkan sistem refill dan juga meniadakan penggunaan plastik, baik plastik sebagai kantong belanja maupun kemasan. Dus, konsumen pun akan mengikuti kebijakan dari toko-toko ritel tersebut. 

“Dengan kebijakan ini, mau tidak mau konsumen akan bawa kemasan atau kantong belanja sendiri, Jadi ini akan sangat efektif untuk mengurangi timbulan sampah plastik,” ujar dia.


 


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.