Bimbel Lavender mengincar dana IPO sebesar Rp52,64 miliar (Foto: dok Bimbel Lavender)

Berkembangnya teknologi semakin memudahkan kita untuk beraktivitas, termasuk dalam kegiatan belajar. Inilah yang menjadi rencana ke depan calon emiten bimbingan belajar (bimbel), PT Lavender Bina Cendikia Tbk (BMBL), untuk mengembangkan kegiatan belajar-mengajarnya dengan memanfaatkan teknologi terkini.

Pada pekan depan, Bimbel Lavender akan melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Dengan demikian, langkah ini akan menjadikannya sebagai perusahaan swasta di sektor pendidikan pertama yang melantai di bursa saham. Bimbel Lavender rencananya akan menggunakan dana hasil IPO untuk belanja modal dan pengembangan kanal pembelajaran digital.

Salah satu target Bimbel Lavender adalah mengembangkan teknologi ke dalam kegiatan belajar-mengajar, termasuk teknologi metaverse. Berkembangnya teknologi memungkinkan siswa dapat belajar di mana saja dan kapan saja, seperti contohnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sudah diterapkan selama masa pandemi melalui aplikasi. Bukan tidak mungkin, ke depan akan diterapkan konsep belajar melalui metaverse.

Metaverse adalah dunia virtual yang diciptakan oleh konvergensi teknologi digital dan dunia fisik. Teknologi ini memiliki lingkungan online di mana dapat berinteraksi satu sama lain dengan objek digital dengan cara yang realistis.

“Dunia teknologi semakin berkembang dan semakin menarik, sektor pendidikan harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi ini untuk belajar-mengajar sehingga bisa mencetak SDM-SDM berkualitas. Itulah mengapa, kami memiliki rencana untuk mengembangkan pembelajaran digital, termasuk salah satunya adalah program metaverse berupa virtual reality,” ujar Direktur Utama Bimbel Lavender Galih Pandekar dalam siaran pers di Jakarta (06/01/2023).

Galih menerangkan, Bimbel Lavender adalah bimbel eksklusif yang dirintis sejak tahun 2010. Berbeda dari bimbel-bimbel konvensional, bimbel ini diklaim menyediakan sistem pembelajaran dengan model karantina atau supercamp, dengan menginap di hotel selama 4-5 minggu sebagai program persiapan masuk PTN. Semua fasilitas seperti makan-minum hingga laundry, dan kebutuhan belajar siswa disiapkan oleh Bimbel Lavender, termasuk untuk pendaftaran ujian hingga pengantaran siswa ke tempat ujian.

Bimbel Lavender saat ini telah mengembangkan kanal digital di Youtube dan aplikasi latihan soal bernama Bookgenville. Setelah IPO, emiten berkode BMBL ini akan mengembangkan teknologi digital untuk pembelajaran. Bimbel Lavender akan terus mencari cara dan peluang dalam pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan.

“Sektor pendidikan saat ini masih belum maksimal dalam menerapkan teknologi. Padahal, sektor pendidikan ini adalah kebutuhan utama, dan menjadi tonggak utama dalam pengembangan SDM serta paling besar alokasi anggarannya di APBN. Industri pendidikan pun tahan resesi terbukti selama pandemi kemarin, sektor pendidikan tetap berjalan meski betapa terpuruknya kondisi ekonomi kita saat itu,” lanjut Galih.

Bimbel Lavender telah menetapkan harga perdana Rp188 per saham dengan nilai nominal Rp40 per saham dalam penawaran umum perdana atau IPO. Dengan penetapan harga IPO tersebut, Bimbel Lavender mengincar dana Rp52,64 miliar yang akan digunakan salah satunya untuk pengembangan teknologi digital untuk pembelajaran.

Swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.