SURYA.CO.ID, JEMBER – Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI) menggelar Special event Station (Spesial Call) untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Jember ke-94.

Kegiatan yang berlangsung di Alun-alun Jember ini, juga dihadiri oleh Bupati Jember Hendy Siswanto, Sabtu (7/1/2023) siang.

Nampak dalam acara tersebut, Bupati Hendy mencoba menyapa pendengar lewat gelombang frekuensi 59.73 FM Radio amatir transfer ORARI yang berada di Kabupaten Banyuwangi maupun Kota Surabaya.

“Meskipun banyak media digital, tidak akan mengancam keberadaan ORARI,” ujar Bupati Hendy.

“Karena selain organisasi komunikasi saluran radio, ORARI ini juga organisasi sosial, sehingga membuat ORARI tidak punya kompetitor di masa digitalisasi saat ini,” imbuhnya.

Menurut Hendy, organisasi ini juga sangat berkontribusi besar atas peristiwa besar, khususnya bencana. Dalam memberikan laporan kepada instansi terkait.

“Ini adalah bagian dari satu organisasi yang keren, yang perlu dikemas agar lebih tajam lagi. Tadi diuji, dalam waktu cepat ORARI bisa menghubungkan ORARI yang di Banyuwangi, Gresik, Banyuwangi, Bangil bahkan Surabaya,” kata Hendy.

Ia juga menilai, fasilitas yang dimiliki oleh ORARI membawa manfaat banyak. Kata Hendy, bukan hanya untuk kebencanaan, tetapi juga kegiatan sosial lainnya.

“Tentunya organisasi seperti ini akan harus kami dukung. Kami ngikuti ORARI, apa yang perlu kami support, kami punya Diskominfo, Dinsos dan lain-lain yang siap memfasilitasi,” imbuhnya.

Ketua ORARI Lokal Jember, Etty Setiyati dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Jember ke-94. tersebut, pihaknya menggelar komunikasi lewat Radio di Alun-alun Jember selama dua hari.

“Jadi untuk mengenalkan kepada masyarakat adanya Radio milik ORARI,” tuturnya.

Memang di era digital saat ini, lanjut Etty, sangat mempengaruhi eksistensi radio. Namun, keberadaan alat komunikasi ini masih diperlukan, khususnya untuk mengabarkan peristiwa di lokasi yang belum terjamah signal smartphone.

“Seperti daerah Bangsalsari ke utara, di situ blank tidak ada signal. Tetapi kalau memakai alat radio transfer, di manapun tempatnya masih bisa terpancar,” tanggapnya.

Contohnya ketika peristiwa Tsunami Aceh, lanjut dia, di tempat tersebut kalau itu seluruh alat komunikasi lumpuh, termasuk signal handphone.

“Jadi teman-teman ORARI berangkat membawa genset. Karena apa? Pada saat itu listrik juga mati. Jadi pasti ada plus dan minusnya,” urainya.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.