Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com/GenPI.co

GenPI.co – Pertahanan terakhir itu jebol. Semua teroris tertangkap. Atau tertembak. Tak tersisa. Habis. Kawasan Poso, Sulawesi Tengah, mestinya sudah bisa tenang. Waktunya membangun. Menyejahterakan rakyat.

Kalau bisa. Kalau mau. Atau, terorisnya muncul lagi. Teroris baru. Generasi baru. Diberi kesempatan berkembang. Dipelihara. Bisa sebagai proyek.

Saat Brigjen Farid Makruf (kini Mayjen TNI, Pangdam V/Brawijaya) meninggalkan jabatan Danrem Sulteng, terorisnya tinggal tiga orang. Di hari serah terima jabatan, tertembak lagi satu orang.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan: Sobekan Lead

Tinggal dua. Beberapa waktu setelah meninggalkan Palu, Farid mendapat laporan: yang dua orang itu pun tertembak. Benteng terakhir teroris Poso itu di tengah hutan. Di gunung bergunung.

Bukan hutan rimba. Itu hutan tanaman rakyat: kakau, kopi, dan belakangan vanila. Hutan rimbanya di sisi lebih Barat, ke arah taman nasional Lore Lindu. Yang ada danau Lindu-nya. Yang jadi pusat populasi burung Maleo.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan soal Pemilu 2024: Tertutup Terbuka

Sedang pegunungan teroris itu populer dengan sebutan ”Gunung Biru”. Itu bukan nama asli. Istilah Gunung Biru baru terkenal belakangan, sejak sering terjadi operasi penangkapan teroris di kawasan itu.

Kawasan Gunung Biru juga dijadikan tanah impian bagi para ekstremis yang ingin menegakkan wilayah berdasar ajaran Islam. Semacam kawasan otonomi Islam di dalam provinsi Sulteng.

BACA JUGA:  Catatan Dahlan Iskan soal Pangdam V Brawijaya: Master Letnan

Sebenarnya konflik antar agama di Poso sendiri sudah selesai tahun 2007. Yakni sejak ditandatangani perdamaian Malino. Yang terjadi setelah itu adalah terorisme.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Artikel ini bersumber dari www.genpi.co.