Kedua, kebocoran data pasien rumah sakit (RS), yang mencakup nama lengkap, tempat perawatan, foto pasien, serta hasil tes Covid-19 dan hasil pindah sinar X. Ukuran dokumen mencapai 720 GB.

Lalu, kebocoran data pelamar kerja di PT Pertamina Training and Consulting (PTC). Data yang bocor meliputi nama lengkap, nomor ponsel, alamat rumah, tempat dan tanggal lahir, ijazah, transkrip akademik, kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), hingga curriculum vitae (CV).

Selanjutnya, kebocoran data 21.000 perusahaan berukuran 347 GB. Data yang bocor mencakup laporan keuangan, surat pemberitahuan tahunan (SPT), serta nomor pokok wajib pajak (NPWP) direksi-komisaris dan perusahaan.

Kelima, kebocoran 17 juta pelanggan PLN. Namun, berdasarkan hasil investigasi tim PLN, data yang bocor diklaim hanya replika umum belaka atau tidak spesifik para pelanggan.

Kemudian, kebocoran data 26 juta riwayat pengguna IndiHome berukuran 16,79 GB. Data yang terekspose meliputi riwayat penjelajahan (browsing), semisal waktu dan situs yang dikunjungi, serta data personal, yakni nama lengkap, nomor induk kependudukan (NIK), dan jenis kelamin.

Berikutnya, bocornya 252 GB data pelanggan Jasa Marga Toll-Road Operator (JMTO). Ini diketahui berdasarkan unggahan di breached.to oleh akun bernama Desorden. Di dalamnya memuat data pengguna, pelanggan, karyawan, data perusahaan, hingga catatan keuangan Jasa Marga.

Dua kasus terakhir, kebocoran 1,3 miliar data hasil proses registrasi SIM card dan 105 juta data penduduk dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang di dalamnya ada NIK. Peretasan dilakukan Bjorka dan dia bahkan membagi-bagikan 2 juta sampel secara cuma-cuma guna membuktikan keasliannya.

Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto, mengatakan, bocornya 1,3 miliar data SIM card menjadi skandal terbesar di Asia. Bahkan, mengalahkan kasus serupa di Malaysia pada 2017 silam.

Kala itu, terangnya, sebanyak 46,2 juta pelanggan dari 12 operator seluler Malaysia mengalami kebocoran data. Isinya mencakup tanggal lahir, nomor KTP, nomor ponsel, alamat surat elektronik, hingga kata sandi.

Sementara, perusahaan keamanan siber, Surfshark, mencatat, Indonesia berada di peringkat 8 pada kuartal I-2022 lantaran kebocoran data berdampak terhadap lebih dari 429.000 pengguna. Kemudian, menempatkan RI di peringkat teratas dibandingkan negara-negara Asia Tenggara.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.