Hasil Karya Rancangan Busana Buatan Mahasiswa ESMOD Jakarta (Foto: Audrey/SWA)

Perkembangan industri mode tidak pernah lepas dari tren yang silih berganti dari waktu ke waktu. Perubahan tren yang terjadi dengan cepat menyebabkan munculnya konsep ready to wear dalam industri fast fashion.

Namun, masyarakat masih belum menyadari terkait berbagai jenis limbah yang dihasilkan dari fenomena fast fashion ini telah secara signifikan mencemari bumi. Bahan pakaian yang digunakan dalam industri fast fashion seperti serat sintetis seperti poliester. Bahan-bahan ini menjadi sumber utama karena tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk diproduksi. Jika dibandingkan, harga poliester hanya setengah dari harga kapas yang digunakan.

Dilansir dari data statistik Technical Textile Markets, akibat dari permintaan konsumen akan fast fashion, permintaan akan fiber poliester melonjak dua kali lipat bila dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu. Hasilnya, industri mode sekarang adalah penghasil polusi terbesar kedua di Bumi setelah minyak, dengan 300.000 ton pakaian bekas akan ditimbun. Bahan poliester tidak dapat terurai secara hayati (non-biodegradable) dan melepaskan mikroplastik yang dapat merusak ekosistem. Akibatnya, menimbulkan pencemaran air dan ekosistem di laut menjadi rusak.

Oleh sebab itu, para perancang busana ditantang untuk dapat menciptakan suatu buasana yang bersifat berkelanjutan dan bisa memanfaatkan sisa-sisa bahan yang tidak terpakai atau bahkan bahan bekas yang masih layak pakai. Sekolah mode Esmod Jakarta mempunyai visi misi dalam melahirkan desainer baru untuk menghasilkan produk-produk yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Andhika Kusuma, Head of Business Esmod Jakarta mengungkapkan, pihaknya memiliki visi dan misi yang sejalan dengan dukungan terhadap produk-produk yang berkelanjutan jangka panjang dan mengurangi limbah tekstil. Mereka juga terus mendorong tren fesyen berkelanjutan dengan mengajak mengurangi limbah produksi. Kolaborasi dengan banyak pihak menjadi kunci dalam menciptakan iklim fashion berkelanjutan, terutama dengan para produsen lokal.

“Esmod mendukung produk dalam negeri, bukan hanya dari siswa dan alumni, tetapi juga masyarakat publik agar menjadi motor penggerak industri fesyen yang berkelanjutan untuk bisa lebih berkembang dan dikenal oleh banyak orang. Tentunya bisa bersaing dengan produk fesyen asing,” tuturnya pada Media Gathering Esmod di kampusnya, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (25/01/2023).

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.