Jakarta: Terdakwa Ferdy Sambo mengaku kenal omel istrinya, Putri Candrawathi. Putri Candrawathi tak terima dilibatkan dalam skenario tembak menembak untuk mengaburkan penyebab kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang terjadi pada 8 Juli 2022.
 
“Justru pada tanggal 9 Juli 2022, istri saya Putri Candrawathi sangat marah setelah saya menyampaikan cerita tembak menembak yang melibatkan istri saya sebagai korban pelecehan,” kata Ferdy Sambo saat membacakan nota pembelaan atau pleidoinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Selasa, 24 Januari 2023.
 
Menurut Ferdy Sambo, istrinya sempat meminta persoalan dengan Brigadir J dibereskan baik-baik. Namun, eks Kadiv Propam Polri itu mengaku sudah tersulut emosi mengetahui Putri Candrawathi dilecehkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ferdy Sambo mengakui telah menyusun cerita kebohongan penyebab tewasnya Brigadir J karena tembak menembak dengan Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E. Cerita tersebut didasarkan pada Peraturan Kapolri Nomor 01 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan Kepolisian.
 
“Penggunaan kekuatan dapat dilakukan oleh anggota Polri apabila terdapat ancaman kepada diri sendiri maupun orang lain. Sehingga saat itu cerita tembak-menembak antara Richard dengan Yosua untuk melindungi istri saya yang dilecehkan di rumah Duren Tiga dapat menjadi alasan yang masuk akal untuk melindungi Richard dari pertanggungjawaban pidana,” jelas Ferdy Sambo.
 

 
Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Ferdy Sambo dihukum penjara seumur hidup karena perbuatannya mengakibatkan nyawa Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J hilang dan duka mendalam bagi keluarganya. Dia juga dianggap berbelit-belit menyampaikan keterangan di persidangan.
 
Tindakan Sambo juga menimbulkan keresahan dan kegaduhan di tengah masyarakat. Sambo sebagai aparat penegak hukum seharusnya menjadi teladan.
 
Selain itu, kelakuan Ferdy Sambo dianggap mencoreng Polri di mata masyarakat dan dunia internasional. Kasus Sambo turut menyeret anggota Polri lainnya.
 
Ferdy Sambo dinilai terbukti melanggar Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dia juga dinilai terbukti menghalangi penyidikan atau obstruction of justice dalam perkara pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.
 
Pada perkara obstruction of justice, Ferdy Sambo dianggap terbukti melanggar Pasal 49 jo Pasal 33 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 

(END)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.