Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (25/1) ditutup ke zona merah di level 6.829, atau terkoreksi 30,92 poin (0,45%). Penurunan didorong oleh melemahnya sektor energi, barang baku, konsumer siklikal, kesehatan, infrastruktur, teknologi, serta properti dan real estate.

Total volume perdagangan yang berhasil dicatatkan mencapai Rp22,21 miliar dengan total nilai transaksi Rp8,27 triliun. Pada perdagangan hari ini, Kamis (26/1) IHSG diperkirakan akan melanjutkan potensi penurunan lagi.

Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova memproyeksikan, IHSG hari ini akan melanjutkan penurunan untuk menguji support di 6.773.

“IHSG akan rebound jika koreksi berhenti di sekitar level 6.773. Level support IHSG berada di 6.820, 6.773, dan 6.691. Sementara level resistennya di 6.908, 6.968, dan 7.064. Berdasarkan indikator MACD menandakan momentum bullish,” tulis Ivan dalam risetnya, Kamis (26/1).

Sejumlah saham yang menjadi rekomendasi Ivan pada perdagangan hari ini yaitu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan rekomendasi hold atau take profit pada titik support 6.700 dan resistance di 7.050, 7.200, 7.350, dan 7.500. Lalu saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan rekomendasi hold atau trading buy di rentang harga 36.400 hingga 36.500 dengan target harga terdekat di 39.350.

Berikutnya saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan support 4.520 dan resistance 5.000, 5.100, dan 5.275. MDKA direkomendasikan hold atau buy on weakness di rentang harga 4.550 sampai 4.650. Saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan rekomendasi hold atau speculative buy di rentang 2.010 sampai 2.070. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dengan rekomendasi hold di target 7.500.

Sedangkan Associate Director of Research and Investment, Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus memperkirakan, IHSG hari ini berpotensi melemah di rentang 6.745 hingga 6.935. Menurutnya, pasar saham di negara berkembang masih akan menjadi pemenang di 2023.

“Morgan Stanley meyakini pasar negara berkembang jadi pemenang karena adanya penarikan investasi dari Amerika Serikat (AS) untuk menambah eksposure di negara berkembang. Indeks pasar negara berkembang MSCI pun mendukung hal tersebut dengan mengalami kenaikan 8,6%,” tulisnya dalam riset Pilarmas Investindo Sekuritas.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.