Ekonomi

Adopsi Hewan Peliharaan = Menyelamatkan Dua Nyawa Sekaligus

Adopsi Hewan Peliharaan = Menyelamatkan Dua Nyawa Sekaligus

Adopt, don’t shop! Adopsi, jangan beli! Slogan-slogan itu sempat menggelora beberapa tahun lalu. Kini seiring berjalannya waktu, gerakan untuk mengadopsi hewan peliharaan tersebut seolah redup. Namun, para pegiatnya tetap setia berkampanye.

SECARA moral, mengadopsi hewan peliharaan dari selter adalah praktik yang ideal. Tapi, tidak demikian jika ditilik dari ukuran gengsi. Membeli hewan peliharaan dari pet shop jelas lebih mentereng. Ada harga yang dibayar, bisa pamer ke orang-orang. Selain itu, pembelinya bisa bebas memilih ras jenis apa yang disuka untuk jadi momongan di rumah.

“Dengan memilih adopsi, otomatis ada dua nyawa yang terselamatkan. Nyawa hewan yang kita pilih untuk diadopsi dan nyawa hewan lain yang kemudian memiliki kesempatan untuk ditolong juga,” papar Head of Operations Let’s Adopt Indonesia Carolina Fajar pada Jumat (13/5).

Kepada Jawa Pos, Carol menyatakan bahwa proses adopsi membuka satu ruang kosong di selter. Sebab, hewan yang diadopsi lantas punya rumah baru. Space yang tadinya ia pakai pun kemudian bisa diberikan kepada hewan lain yang membutuhkan.

Awareness masyarakat untuk mengadopsi hewan peliharaan, menurut dia, memang masih perlu dibangun terus. Karena itulah, para pegiat seperti Carol terus mengampanyekan adopsi. Kesadaran harus tumbuh dari dalam diri masyarakat, tidak bisa dipaksakan. Maka, upaya terbaik adalah dengan tidak lelah terus menyosialisasikan gerakan tersebut dan mengedukasi masyarakat.

“Kami tidak bisa memaksa orang untuk tidak membeli hewan peliharaan. Umumnya, orang-orang lebih memilih beli di pet shop, breeder, atau forum JBJB. Tapi, praktik ini sebenarnya memiliki sisi gelap,” imbuhnya. Hukum ekonomi berlaku. Jika ada demand, supply akan terus diadakan.

Carol maklum jika publik lebih suka membeli. Faktanya, hewan-hewan peliharaan yang diasuh di selter memang kurang ”menjual.” Bisa jadi usianya sudah tidak muda, dipungut dari jalanan, dan tidak jelas rasnya. Namun, tidak berarti semua anjing dan kucing yang ditampung di selter tidak layak untuk dijadikan momongan.

STERIL: Victor Indrabuana mengelus momongannya dari balik kandang. (ILHAM WANCOKO/JAWA POS)

Ron Ron Dog Care (RRDC) di Jogjakarta adalah bukti bahwa selter bukanlah tempat penampungan hewan-hewan peliharaan kelas dua. Ada berisik yang tipis dari balik pintu kayu yang menjadi pintu masuk utama RRDC. Begitu pintu terbuka, puluhan anjing berbagai ukuran menyambut Jawa Pos. Menggonggong? Tidak. Sama sekali. Padahal, sebagai stranger, Jawa Pos sudah menyiapkan mental untuk diserang gonggongan bertubi-tubi.

Founder RRDC Victor Indrabuana langsung mengajak berkeliling. Ada dua area di sana. RRD Care dan RRD Camp. Area pertama digunakan untuk menampung anjing-anjing yang bernasib malang. Tapi, jangan dikira penampilan mereka seperti anjing liar. Salah. Mereka begitu terawat, sehat, dan sangat jinak. Binar mata dan kibasan ekor tanda riang menjadi salam selamat datang mereka kepada setiap tamu.

Selter yang lapang itu juga sangat bersih. Tidak ada bau menyengat di sana meski dihuni sekitar 130 ekor anjing. Mereka bebas berjalan-jalan dan bermain di lahan tanah. ”Kalau yang dikerangkeng itu artinya masih sering menyerang anjing lain,’’ terang Victor saat dikunjungi pekan lalu. Alumnus SMA Petra 2 Surabaya itu menambahkan bahwa sebagian besar penghuni selter adalah anjing kampung.

BERCENGKRAMA: Anak-anak anjing di selter RRDC berkumpul di salah satu sudut dan bercanda satu sama lain. (ILHAM WANCOKO/JAWA POS)

Namun, ada juga beberapa anjing ras. Salah satunya, Siberian husky yang diselamatkan dari penjagalan warung ”jamu.” Di Jogjakarta, warung yang menjual olahan daging anjing disebut warung ”jamu” oleh masyarakat. ’’Kami selamatkan karena yakin itu anjing curian,’’ kata Victor.

Biaya operasional selter sangat besar. Mengandalkan dana pribadi jelas tidak mungkin. Namun, terus-terusan bergantung pada donatur juga tidak bagus. Karena itulah, Victor mengembangkan RRD Camp. Area tersebut dirancang untuk menjadi tempat penitipan sekaligus tempat wisata bagi satwa peliharaan. Nanti RRD Camp itulah yang menghidupi selter. ’’Itu harapan kami,’’ ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/agf/c6/hep

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top