Ekonomi

Kebijaksanaan dalam Sebungkus Mi Instan

Kebijaksanaan dalam Sebungkus Mi Instan

Belum lama ini seorang kawan mendatangi saya dan bertanya apakah saya punya buku Ernest Hemingway yang berjudul Lelaki Tua dan Laut. Saya tidak punya, tapi saya katakan kepadanya bahwa saya bisa meminjamkan untuknya jika dia mau. Dan dia mau. Tidak hanya mau, dia juga sangat menggebu meminta saya untuk segera meminjamnya di teman saya. Meski sedikit kesal, saya mau juga melakukannya.

SAYA tidak akan berbohong bahwa saat itu saya senang mendengar kawan saya ini punya keinginan membaca buku. Setahu saya dia bukanlah tipikal yang suka membaca. Saya langsung berpikir bahwa dunia literasi tidaklah semuram yang dikatakan orang-orang. Peringkat 61 dari 62 negara yang sering digaung-gaungkan untuk mengkritik rendahnya minat baca masyarakat kita hanyalah sebentuk kesalahan metodis. Apa yang terjadi pada kawan saya ini adalah buktinya. Saya bahkan sampai membayangkan akan sebanyak apa royalti yang saya terima jika saya menerbitkan buku. Saya kira dunia literasi telah membaik sampai saya mendengar alasan kawan saya ini ingin membaca buku Ernest Hemingway.

”Saya dengar buku itu penuh dengan kalimat-kalimat motivasi,” kata kawan saya. Begitu mendengarnya, saya langsung tahu dia tidak akan pernah menyelesaikan buku itu. Dan dugaan saya benar. Ketika saya meminta dia mengembalikannya karena telah terlalu lama meminjamnya, dia benar-benar tidak menyelesaikannya. Bahkan, tidak sampai setengah dari buku itu dibacanya.

Ketika saya tanya kenapa dia tidak menyelesaikannya, dia menjawab, ”Bukunya tidak seperti yang saya dengar, tidak ada motivasi-motivasinya.”

Ya jelaslah! Kamu sangka Ernest Hemingway itu Andrea Hirata apa? Mungkin kamu salah dengar, kamu pikir Lelaki Tua dan Laut, padahal yang dimaksud adalah Laskar Pelangi. Hampir saja saya mengatakan itu. Tapi, saya segera ingat bahwa saya tidak punya banyak teman.

Peristiwa itu langsung membuat saya teringat akan sosok Mario Teguh yang laris manis di awal milenium kedua. Rupanya era motivasi belum berakhir seturut surutnya popularitas Mario Teguh. Mario Teguh boleh tidak lagi teguh di layar televisi, tapi orang-orang tetap butuh motivasi. Orang-orang butuh motivasi seperti para penderita penyakit kronis membutuhkan obat medis.

Apa yang terjadi? Kenapa orang-orang sebegitu termotivasinya dalam mengejar kalimat-kalimat motivasi? Apakah hidup sedemikian berat sehingga orang-orang butuh motivasi dalam menjalaninya? Pertanyaan-pertanyaan itu menyemak belukar di kepala saya. Saya mencari-cari jawabannya, dan saya tidak menemukannya. Saya tidak menemukannya sampai saya makan mi instan di sebuah Warmindo.

Saat itu saya tengah kelaparan di jalan, dan karenanya saya butuh makan segera karenanya saya mampir di Warmindo dan memesan sebungkus mi instan.

Di Warmindo, saya dikejutkan dengan begitu banyaknya orang yang juga memesan mi instan. Benar-benar mengherankan, orang-orang ini mengonsumsi makanan yang dalam bentuknya saja sudah instan, dan mereka masih juga butuh dibikinkan. Ya, saya heran. Tapi, itu hanya beberapa menit karena setelah itu saya kenyang. Saya kenyang dan kembali bisa melanjutkan aktivitas hidup sebagai buruh upah murah. Saya kenyang dengan sedikit usaha dan sedikit rupiah. Bisa dikatakan saya kenyang secara instan dengan sebungkus mi instan.

Tapi, apakah saya benar-benar kenyang? Apakah saya sudah memenuhi kebutuhan kalori saya? Apakah saya sudah memenuhi kebutuhan gizi saya? Dua pertanyaan terakhir saya serahkan pada ahli gizi. Karena saya bukan ahli gizi, saya menjawab pertanyaan pertama saja: ya, saya benar-benar kenyang. Tapi, tidak lama setelah itu saya kembali lapar. Apa yang saya konsumsi tidak tahan lama, tidak seperti ketika saya memakan nasi. Dan saya rasa seperti itu juga hasil yang didapatkan dari kalimat-kalimat motivasi.

Para pemburu motivasi ini tidak pernah benar-benar kenyang dengan apa yang mereka cari. Tidak lama setelah mengonsumsinya, mereka sudah lapar lagi. Tapi, mereka tidak punya pilihan karena setiap jiwa yang kosong butuh segera diisi, seperti halnya perut yang kosong –butuh segera diisi. Namun, untuk mengisinya dengan makanan bergizi seperti halnya membaca buku-buku Hemingway, para pemilik jiwa kosong tidak suka: prosesnya rumit dan panjang serta tidak bisa langsung kenyang. Karenanya mereka lebih suka yang instan-instan, yang lebih mudah didapat dan lebih cepat kenyangnya.

Kawan saya ini kemudian jatuh cinta pada buku-buku Sup Ayam dan buku-buku Anand Krishna. Kedua jenis buku itu langsung menjadi menu favoritnya. Tapi, ketika saya minta dia untuk menambah porsi bacaan, menambah Laskar Pelangi ke dalam menu, dia menolak. Sudah cukup, katanya. Mungkin ini seperti makan mi instan, menambah porsi hanya akan membuat enek. Kawan saya tidak pernah menambah porsi bacaan motivasinya. Lagi pula dia sudah mendapatkan bagian-bagian yang dia senangi, bagian yang dia kutip dan simpan di telepon pintarnya. Dan kutipan-kutipan itu dia jadikan jimat yang dibawanya ke mana-mana, jimat yang dibacanya ketika dia butuh sarapan motivasi.

Kini, setiap bertemu, kawan saya jadi pandai memberi nasihat. Dia menasihati saya tentang pelbagai hal. Tiba-tiba saya merasa kawan saya itu jadi bijaksana. Ya, dia menjadi bijaksana seperti sebungkus mi instan. (*)

ALIURRIDHA, Esais dan prosais, tinggal di Lombok, bergiat di Komunitas Akarpohon

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top