Jakarta: Kadar gula darah adalah jumlah glukosa yang ada dalam tubuh. Glukosa dalam tubuh berasal dari makanan yang  dikonsumsi. Darah mengangkut glukosa ke sel-sel tubuh sebagai energi. Penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah biasanya meningkat saat seseorang tidur. 

Namun, fluktuasi gula darah yang terjadi dalam semalam dan saat tidur adalah normal dan tidak menjadi perhatian kebanyakan orang sehat. Tapi, kurang tidur adalah penyebab kekhawatiran karena dapat memengaruhi kadar gula darah .

Orang dengan diabetes memiliki risiko lebih besar terhadap masalah yang berkaitan dengan kadar gula darah karena kurang tidur.  Tubuh terasa kekurangan energi setelah bangun dari tidur yang tidak memadai. Akibatnya, timbul dorongan untuk makan sesuatu yang gurih atau manis. 

Inilah yang menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Kurang tidur kronis dapat menyebabkan kadar gula darah tinggi dan akhirnya menyebabkan resistensi insulin. Seperti yang dinukil dari The HealthifyMe, kurang tidur terus-menerus meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.

 

Diabetes dan tidur, ini kata penelitian

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tujuh sampai delapan jam tidur direkomendasikan untuk orang dewasa agar tubuhnya berfungsi dengan baik. Kelebihan tidur dan kurang tidur keduanya berdampak buruk bagi kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang merugikan yang terkait langsung dengan tidur tidak teratur adalah kadar gula darah tubuh.

Gangguan konstan pada kadar gula darah dapat meningkatkan risiko diabetes. Sebuah penelitian mengatakan bahwa penderita diabetes lebih rentan terhadap penyakit ginjal, mata, atau jantung. Penelitian mengungkapkan bahwa penderita diabetes memiliki peningkatan risiko serangan jantung. Tidur dan berbagai jenis diabetes pada dasarnya ada dua kategori ketidakteraturan gula darah.



(Tidur dan kadar gula darah saling memengaruhi. Meski terdengar kontradiktif, tidur yang tidak tepat atau kurang dapat meningkatkan atau menurunkan kadar gula darah dalam tubuh. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)

 

Hiperglikemia

Terjadi ketika ada kekurangan insulin dalam tubuh dan terlalu banyak gula dalam darah. Stres dan kurang tidur dapat menyebabkan hiperglikemia. Misalnya, jam dan kualitas tidur  memengaruhi suasana hati dan vitalitas. Mereka yang menggunakan steroid untuk masalah kesehatan lainnya juga dapat menghadapi hiperglikemia. 

Penelitian mengungkapkan bahwa tubuh mempersiapkan diri untuk bangun antara dini hari, menghasilkan pelepasan hormon pertumbuhan. Akibatnya, penderita diabetes mengalami kadar gula darah tinggi di pagi hari. Ini dikenal sebagai fenomena fajar. Fenomena fajar adalah hasil dari pelepasan hormon pertumbuhan.

 

Hipoglikemia

Kadar gula darah rendah terjadi ketika kadar gula turun terlalu rendah. Agar sel manusia dapat beroperasi dengan benar, harus ada cukup gula. Kadar gula darah yang rendah dapat menyebabkan kecemasan, sakit kepala, dan masalah sistem saraf pusat lainnya. 

Menurut sebuah penelitian, hipoglikemia ekstrem yang tidak diobati dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, kejang, atau bahkan kematian. Kadar gula darah yang sangat rendah dikenal sebagai syok insulin. 

Hipoglikemia sering terjadi ketika seseorang tidak makan apa pun selama beberapa jam. Kemungkinan penyebab rendahnya kadar gula darah pada penderita diabetes termasuk melewatkan makan, mengonsumsi dosis insulin atau obat-obatan, minum minuman keras dan alkohol.

Singkatnya, tidur memiliki efek langsung pada kadar gula darah. Tidur dan kadar gula darah saling memengaruhi. Meski terdengar kontradiktif, tidur yang tidak tepat atau kurang dapat meningkatkan atau menurunkan kadar gula darah dalam tubuh. 

Terganggunya jumlah jam tidur atau bahkan satu malam membuat seseorang berisiko mengalami peningkatan kadar gula darah. Faktor-faktor yang memengaruhi gula darah dan tidur seseorang bergantung pada usia, pola makan, waktu tertentu dalam sehari, waktu tidur, dan waktu tidur. 

Seiring meningkatnya stres dan kecemasan dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan dan tidur membutuhkan fokus dan perbaikan. Jumlah tidur yang cukup tidak hanya memiliki manfaat fisik tetapi juga manfaat mental. 

Misalnya, tidur yang lebih baik mengurangi risiko masalah gula darah, yang bisa sangat mengancam jiwa dalam jangka panjang. Selain itu, tidur yang baik dan tubuh yang sehat dapat menurunkan stres dan kecemasan serta membantu mencapai kadar gula darah yang optimal.

(TIN)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.