Iran telah mengeksekusi seorang warga negara Inggris-Iran yang pernah menjabat sebagai wakil menteri pertahanannya. Aksi Iran tersebut menentang seruan London dan Washington agar Teheran segera membebaskannya, setelah menjatuhi hukuman mati atas dakwaan menjadi mata-mata Inggris.

Inggris, yang menyatakan kasus terhadap Alireza Akbari bermotivasi politik, mengutuk eksekusi tersebut. Perdana Menteri Rishi Sunak menyebut eksekusi tersebut sebagai “tindakan tidak berperasaan dan pengecut yang dilakukan oleh rezim barbar.”

Akbari, 61, ditangkap pada 2019.

Kantor berita Mizan melaporkan eksekusi itu tanpa menjelaskan lebih lanjut kapan peristiwa ini dilakukan. Pada Jumat (13/1) malam, Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly mengatakan Iran tidak boleh menindaklanjuti hukuman tersebut.

Eksekusi itu tampaknya akan semakin memperburuk hubungan Iran dengan Barat yang telah menegang dan memburuk sejak pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 menemui jalan buntu. Tindakan keras Teheran terhadap pengunjuk rasa terkait tewasnya perempuan Kurdi Mahsa Amini pada tahun lalu juga mempuruk hubungan tersebut.

Dalam rekaman audio yang konon dari berasal Akbari dan disiarkan oleh BBC Persia pada Rabu, dia mengakui kejahatan yang tidak dia lakukan setelah penyiksaan yang ekstensif.

“Alireza Akbari, yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan korupsi di Bumi dan tindakan ekstensif terhadap keamanan internal dan eksternal negara melalui spionase untuk dinas intelijen pemerintah Inggris … dieksekusi,” kata Mizan.

Laporan Mizan menuduh Akbari dibayar sebesar $1,8 juta euro (sekitar Rp29,5 miliar), 265.000 pound (Rp4,9 miliar), dan $50.000 (Rp755 juta) untuk kegiatan spionase.

Jaksa Agung Teheran Saeed Mortazavi (kedua dari kiri) menghadiri eksekusi gantung Majid Kavousifar dan Hossein Kavousifar di Teheran 2 Agustus 2007. (Foto: Ilustrasi/REUTERS/Morteza Nikoubaz)

Sunak mengatakan di Twitter bahwa dia “terkejut dengan eksekusi tersebut,” dan mengatakan Teheran “tidak menghormati hak asasi manusia rakyatnya sendiri.” Cleverly mengatakan dalam sebuah pernyataan itu “tidak akan berdiri tanpa tantangan,” kemudian mengumumkan Inggris telah menjatuhkan sanksi pada jaksa penuntut umum Iran.

Duta Besar AS untuk London Jane Hartley menyebut eksekusi itu “mengerikan dan memuakkan.”

“Amerika Serikat bergabung dengan Inggris dalam mengutuk tindakan biadab ini,” tulisnya di Twitter.

Pernyataan Inggris tentang kasus tersebut tidak menjawab tuduhan Iran bahwa Akbari memata-matai Inggris.

Kementerian Luar Negeri Iran memanggil duta besar Inggris pada hari Sabtu atas apa yang disebutnya “campur tangan London dalam ranah keamanan nasional Iran,” lapor kantor berita negara IRNA.

Media pemerintah Iran, yang menggambarkan Akbari sebagai mata-mata super, menyiarkan sebuah video pada Kamis yang mereka katakan menunjukkan bahwa dia berperan dalam pembunuhan ilmuwan nuklir ternama Iran, Mohsen Fakhrizadeh, pada 2020. Ia tewas dalam serangan di luar Teheran dan Israel disalahkan oleh pihak berwenang atas kematian itu.

Dalam video tersebut, Akbari tidak mengaku terlibat dalam pembunuhan itu, tetapi mengatakan seorang agen Inggris telah meminta informasi tentang Fakhrizadeh.

Reuters tidak mengetahui keaslian video dan audio media pemerintah.

Akbari adalah sekutu dekat Ali Shamkhani, sekarang sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Ia menjabat menjadi menteri pertahanan dari 1997 hingga 2005, sebagai bagian dari pemerintahan presiden reformis Mohammad Khatami, ketika Akbari menjadi wakilnya.

Dia berjuang selama perang Iran-Irak pada 1980-an sebagai anggota Garda Revolusi. [ah]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.