Jakarta, IDN Times – Kanselir Olaf Scholz, pada Senin (29/8/2022), mengatakan bahwa Jerman akan mempertahankan dukungannya untuk Ukraina selama apa pun yang dibutuhkan. Di saat yang sama, Scholz juga menyerukan Uni Eropa (UE) untuk menerima keanggotaan Ukraina, Moldova, dan Georgia.

Scholz mendesak 27 anggota UE untuk menyelesaikan konflik lama dan menemukan solusi baru, kata Scholz dalam pidatonya di Universitas Charles di Praha.

“Eropa kami bersatu dalam perdamaian dan kebebasan serta terbuka untuk semua negara Eropa yang (ingin) berbagi nilai-nilai kami,” kata dia, dilansir Reuters.

“Kami akan mempertahankan dukungan ini (untuk Ukraina), dengan andal dan di atas segalanya, selama dibutuhkan,” tambah dia.

1. Jerman berkomitmen membantu Ukraina

Kanselir Jerman Olaf Scholz (Twitter.com/Olaf Scholz)

Dalam beberapa bulan terakhir, Jerman telah mengalami perubahan mendasar terkait dukungan militernya kepada Kiev. Perubahan paradigma kebijakan luar negeri dan pertahanan Jerman terjadi pada Februari, setelah Scholz dikritik karena terlalu lambat mengirimkan senjata ke Ukraina.

Sebelumnya, Scholz menjadi bulan-bulanan saat melantangkan bahwa Jerman tidak akan mengirim senjata berat ke Ukraina. Kala itu, salah satu bantuan yang mereka kirim ke Ukraina hanya helm militer.

Pidato Scholz di Praha yang bertajuk ‘Eropa adalah masa depan kita’ dimanfaatkan sebagai deklarasi komitmen Jerman untuk terus mengirim senjata canggih ke Ukraina, seperti sistem pertahanan udara, radar, dan drone pengintai, dalam beberapa minggu serta bulan mendatang.

Jerman juga dapat memikul tanggung jawab untuk membangun artileri dan kapasitas pertahanan udara Ukraina, tambah Scholz.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Baca Juga: Rusia: Perang Gak Akan Berhenti Walau Ukraina Batal Gabung NATO

2. Jerman usulkan reformasi sistem pemungutan suara UE

Olaf Scholz: Jerman Akan Bantu Ukraina Selama Apa Pun yang Dibutuhkan Bendera Uni Eropa dan beberapa bendera anggota dari Uni Eropa. (Pixabay.com/Dusan_Cvetanovic)

Topik lain yang diangkat oleh Scholz adalah perluasan keanggotaan UE. Dia menggarisbawahi komitmen Jerman untuk mendukung Ukraina, Moldova, Georgia, serta negara Balkan Barat lainnya untuk bergabung dengan blok tersebut.

Dia menambahkan, transisi bertahap ke pemungutan suara mayoritas adalah batu loncatan untuk memperkuat UE. Artinya, tidak perlu suara konsensus agar UE melahirkan suatu kebijakan.

“Suara yang bulat diperlukan hari ini. (Namun) risiko masing-masing negara menggunakan hak vetonya dan mencegah negara lain maju (mencalonkan diri sebagai anggota UE) meningkat dengan setiap bertambahnya anggota. Oleh karena itu, saya telah mengusulkan transisi bertahap ke pemungutan suara mayoritas dalam kebijakan luar negeri bersama,” ungkap dia.

3. PM Ceko sebut sekarang bukan saatnya untuk perubahan secara fundamental

Olaf Scholz: Jerman Akan Bantu Ukraina Selama Apa Pun yang Dibutuhkan Bendera Uni Eropa di gedung Berlaymont kantor Komisi Eropa di Brussels, Belgia (unsplash.com/@guillaumeperigois)

Beberapa saat lalu, Perdana Menteri Ceko Petr Fiala, yang negaranya memegang kepresidenan bergilir enam bulan di blok itu, memberi peringatan terkait upaya mengubah mekanisme pengambilan keputusan UE.

“Perdebatan tentang perubahan sekarang tidak akan membuat kita lebih kuat, tetapi juga dapat mengganggu konsensus dan kerja sama yang saat ini dibutuhkan,” kata Fiala, dikutip dari Bloomberg.

Baca Juga: Moldova Sindir Kebijakan Putin: Tujuan Rusia di Ukraina Gak Jelas

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis.
Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.


Artikel ini bersumber dari www.idntimes.com.