Green Without Borders, sebuah LSM yang memiliki agenda melindungi kawasan hijau Lebanon, dituduh Israel, Amerika Serikat dan beberapa pihak di Lebanon sebagai kaki tangan Hizbullah yang berfungsi menyembunyikan kegiatan militer kelompok bersenjata itu.

Mereka mengatakan LSM tersebut telah mendirikan pos terdepan untuk kelompok militan di sepanjang perbatasan dengan Israel. Bulan lalu, penduduk di Rmaych, sebuah desa Kristen dekat perbatasan itu, mengatakan mereka bertemu dengan orang-orang bersenjata di pos terdepan LSM tersebut yang menghalangi mereka masuk lahan pertanian.

Green Without Borders menyangkal kaitan dengan Hizbullah, yang juga mengatakan tidak terkait dengan LSM itu.

“Kami bukan kaki tangan siapa pun,” kata Direktur Green Without Borders, Zouher Nahli, kepada Associated Press. “Kami sebagai asosiasi lingkungan bekerja untuk semua orang dan kami tidak dipolitisasi,’ imbuhnya.’

Ia berbicara di Cagar Alam Bassam Tabaja, yang dinamai sesuai nama pejuang Hizbullah yang terbunuh di Suriah pada tahun 2014, di mana LSM itu telah menanam ratusan pohon.

Mobil melaju di samping tembok yang memisahkan Lebanon dari Israel di desa Kfar Kila, Lebanon tenggara, Sabtu, 21 Januari 2023. Green Without Borders yang aktif di Lebanon selatan, termasuk daerah di sepanjang perbatasan dengan Israel, dituduh menjadi perpanjangan tangan Hizbullah untuk meliput beberapa kegiatan militer kelompok itu oleh Israel, AS, dan beberapa di Lebanon. (AP/Mohammed Zaatari)

Ia mengatakan pendanaan organisasi itu berasal dari kementerian lingkungan hidup dan pertanian serta dari orang-orang kaya Lebanon yang peduli terhadap lingkungan. Ia sendiri mengaku sebagai pegawai Kementerian Pertanian.

Sejak mulai beroperasi pada 2009, LSM itu telah membantu menanam sekitar 2 juta pohon, kata Nahli.

Israel dan Hizbullah adalah musuh bebuyutan dan telah berperang beberapa kali selama beberapa dekade ini, yang terakhir berakhir pada Agustus 2006. Konflik 34 hari itu menewaskan 1.200 orang di Lebanon, kebanyakan warga sipil, dan 160 orang di Israel, kebanyakan tentara.

Resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengakhiri perang tersebut mengatakan bahwa daerah perbatasan harus bebas dari “personel, aset, dan senjata apa pun,” selain milik pemerintah dan pasukan penjaga perdamaian PBB. Setelah perang itu, ribuan tentara Lebanon dikerahkan di zona perbatasan dan kehadiran pasukan penjaga perdamaian PBB, yang dikenal sebagai UNIFIL dan telah hadir di sana sejak 1978, ditingkatkan. [ab/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.