Merdeka.com – Kementerian Perindustrian akan meluncurkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada akhir November. Sama seperti purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI), IKI juga akan menjadi parameter kinerja industri.

Hanya saja, Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Perindustrian Wulan Aprilianti Permatasari menyampaikan bahwa yang ditekankan pada IKI yaitu responden lebih banyak karena mewakili subsektor industri.

“Laporan IKI nantinya menekankan pada responden yang lebih banyak jumlahnya, yang mewakili seluruh subsektor industri,” ujar Wulan dikutip pada Minggu (6/11).

Wulan menyampaikan, dalam pembentukan IKI, Kemenperin didukung oleh para akademisi dan peneliti dari universitas dan lembaga penelitian. Sebelum peluncuran IKI, Kemenperin sudah terlebih dulu menyelenggarakan Expert Meeting pada 3 November 2022, untuk mendapatkan masukan dari para peserta terhadap konsep IKI yang telah disusun antara lain variabel, bobot variabel, dan daftar responden IKI.

Selain itu, akan memberikan pelatihan kepada para pelaku industri untuk pengisian kuesioner pelaporan IKI yang nantinya akan dilakukan setiap bulan secara daring melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

Wulan mengatakan, pelaporan IKI bertujuan untuk mengetahui persepsi para pelaku industri terhadap kondisi industri pada bulan pelaporan dan prospek bisnis enam bulan ke depan.

“Perusahaan Industri harus melaporkan kegiatan industrinya melalui kuesioner online mulai tanggal 12 sampai dengan 23 setiap bulannya melalui portal SIINas. Saat ini jumlah pemilik akun SIINas sebanyak 36.039 akun dan mereka merupakan referensi responden dari IKI,” papar Wulan.

Kemenperin menilai, IKI dapat bermanfaat sebagai indikator penilaian industri yang terpercaya, terkini, terlengkap, dan terdetail serta mampu mendiagnosa lebih awal permasalahan sampai pada subsektor-subsektor industri, sehingga dapat diselesaikan lebih cepat dan tepat.

IKI juga bisa membantu antisipasi kerugian yang lebih besar apabila terjadi permasalahan pada industri dan menggambarkan iklim usaha industri untuk dapat mengetahui prospek bisnis periode mendatang pada sektor industri di Indonesia.

“Kemenperin mengharapkan dukungan para pelaku usaha baik dalam penyelenggaraan pelaporan maupun pemanfaatan dan pengembangan Indeks Kepercayaan Industri selanjutnya,” tutupnya. [azz]

Baca juga:
Industri Kosmetik Korea Hingga Malaysia Bakal Kumpul di Jakarta, Catat Tanggalnya
Kemenkeu: Tak Ada PHK Massal di Industri Tekstil, Cuma Pengurangan Jam Kerja
Antisipasi Resesi, Pemerintah akan Gelontorkan Insentif untuk Industri
PMI Manufaktur Indonesia Anjlok di Oktober 2022, Ini Penyebabnya
Fungsi Pengemasan pada Produk, Penting Dipahami Produsen


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.