Merdeka.com – Isu kesehatan mental akhir-akhir cukup menarik perhatian. Banyak yang membahas mulai dari gejala, faktor, jenis, hingga ciri-ciri terkena gangguan kesehatan mental.

Namun hal ini berbanding terbalik dengan orang yang mengalaminya. Mereka merasa gangguan kesehatan mental merupakan aib.
Bahkan, ada juga yang merasa khawatir lingkungan sekitar tidak bisa menerima kekurangan dirinya.

Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Yovania Asyifa Jami. Perempuan akrab disapa Yova ini membagikan pengalamannya didiagnosa mengalami gangguan kesehatan mental. Yova juga sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa sebagai pasien Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).

“Aku mengalami delusi, halusinasi dan lain-lain. Aku sampai ada ditahap yang tidak bisa diajak berinteraksi lagi. Jadi di awal tahun 2017 akhir aku mengalami gangguan itu dan akhirnya di tahun 2018 tepatnya di Februari atau Maret, aku dibawa ke RSJ,” ujar Nova saat berbincang dengan merdeka.com.

Yova kerap membagikan kisahnya melalui akun media sosial. Yova pun menceritakan pengalamannya saat menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Ia juga mengatakan gejala yang dirasakan mirip seperti ODGJ.

“Karena mirip dengan gangguan jiwa yang sudah bisa dibilang menjadi ODGJ,” tambahnya.

Namun berjalannya waktu, Yova berhasil pulih. Tetapi semua itu tidak terlepas dari penanganan tepat dari RSJ. Yova pun menceritakan cara perawat di RSJ mengembalikan ingatannya.

“Mereka nyuruh aku melihat gelang pasien. Kan kalau pasien dapat gelang ada nama, tanggal lahir. Dan di situ aku lihat Yovania. Akhirnya aku sadar. Aku Yovania. Akhirnya perlahan-lahan tuh ingat kalau aku itu Yovania,” cerita Yova.

Hebatnya lagi sebagai penyintas ODGJ, Yova berhasil menembus ke salah satu kampus terbaik di tanah air yakni Universitas Indonesia. Yova mengambil jurusan Hubungan Masyarakat.

Selain itu dengan berbekal latar belakang pernah dialami, Yova ingin mematahkan stigma negatif terhadap pengidap kesehatan mental. Kemudian Yova mendirikan sebuah platform PASTI.ID bertujuan mengedukasi masyarakat terkait gangguan kesehatan mental.

Lebih lanjut, Yova juga memberikan saran atau cara menemani orang terkena gangguan kesehatan mental agar tidak mudah menghakimi, bahkan menganggap sepele masalah dihadapinya.

“Pertama yang penting adalah selalu ada buat dia. Dan ketika kita melihat teman kita yang sedang down, penting banget untuk kita jangan mudah menghakimi atau mudah judge orang lain,” tutur Nova.

Yova menambahkan, sebagai pendengar perlu juga memahami keadaan diri sendiri. “Kita juga harus mau dengarin. Ketika kita lagi enggak fit enggak enak untuk dengar boleh banget kok untuk nolak,” tandasnya.

[did]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.