“Takutnya saat saya muncul di masyarakat ada efek buruk ke saya,” tuturnya. “Tapi ternyata, pas keluar (rumah) masyarakat satu per satu justru penasaran.”

Warga di sekitar tempat tinggalnya penasaran dengan masa lalu Munir. Akhirnya, ia berinteraksi.

“Saya harus membuktikan diri terus bahwa saya sudah enggak mau jadi kayak dulu lagi,” tuturnya. “Alhamdulillah saya sekarang dipercaya jadi sekretaris RW.”

Sudah setahun Munir menjadi sekretaris RW. Ia juga pernah bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bersama anggota Polresta Solo yang ikut jadi korban bom, Bambang Adi Cahyanto, Munir diundang ke podcast kanal YouTube Ganjar.

“Itu pun membantu. Masyarakat jadi tahu aktivitas saya. Alhamdulillah mereka jadi support ke saya,” ujarnya.

Munir juga aktif mengurus distribusi bantuan sosial dan sosialisasi vaksinasi Covid-19. Ia menganggap, Satgas Covid-19 yang mengajaknya terlibat dalam penanganan pandemi adalah bukti pemerintah tak abai terhadap dirinya. Aktivitasnya sebagai sekretaris RW dan berjualan di warungnya, diakui Munir, adalah kegiatan yang bisa memutus mata rantai dengan jaringan lamanya.

Munir pun berharap, pemerintah daerah berkenan memperhatikan eks napiter seperti dirinya. Menurut dia, pembinaan secara ideologi memang penting, tetapi jika tidak disertai dengan bantuan, seperti pengembangan usaha, maka deradikalisasi bisa tak maksimal.

Sementara mantan napiter lainnya, Muhammad Iqbal bebas dari penjara pada Agustus 2020. Ia merupakan eks anggota Jemaah Islamiyah (JI). Ia sempat pergi ke perbatasan Turki dan Suriah. Saat itu, bersama rombongannya, ia bertemu masyarakat Suriah yang hendak mengungsi ke Turki.

“Kami ingin perang ke sana (Suriah), ingin jihad,” katanya saat dihubungi, Sabtu (7/1).

Singkat cerita, ia ditangkap dan menjalani hukuman selama tiga tahun. Ia mendekam di Rutan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat. Apesnya, belum dua minggu ditahan di sana, kerusuhan yang melibatnya tahanan kasus terorisme pecah pada Mei 2018.

“Tahu film Sayap-Sayap Patah? Itu (salah satu) narasumbernya saya sama Hendro (Fernando, mantan anggota JAD),” ujarnya.

Setelah peristiwa di Rutan Mako Brimob, Iqbal ditahan berpindah-pindah, yakni di Nusa Kambangan, Jawa Tengah; Gunung Sindur, Jawa Barat; Lapas Cilacap, Jawa Tengah; dan Lapas Sentul, Jawa Barat.

Iqbal mengatakan, hubungannya dengan masyarakat tak ada masalah, meski dirinya berstatus eks napiter. Komunikasi dengan Densus 88 pun masih terjaga.

“Kalau saya pribadi, masa lalu biar masa lalu,” ucap dia.

Lain cerita dengan Gamal Abdillah Maulidi yang punya pengalaman ditolak masuk ke Jepang karena statusnya sebagai eks napiter. Hal itu terjadi sebulan lalu. Setibanya di Jepang, Gamal ditahan pihak imigrasi.

Pihak imigrasi berulang kali memfoto dirinya. Lalu, ia dibawa ke kantor dan diinterogasi pihak imigrasi.

“Yang dia (pihak imigrasi) tanyakan itu, ‘Apakah kamu pernah ditahan’?” katanya saat ditemui di kediamannya di daerah Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/1).

“Saya (bilang) enggak pernah. Saya enggak ditahan, saya dibina.”

Setelah itu, Gamal menunjukkan foto dirinya di media sebagai narasumber. Namun, pihak imigrasi terkesan tetap menganggap Gamal sebagai teroris.

“Jadi, ketika (mereka) bilang saya enggak bisa masuk, ya sudah (saya tanya) kapan saya pulang,” tuturnya. “Pertama kalinya eks napiter Indonesia dicekal di Jepang, ya saya.”

Selama dua tahun, 2018-2020, Gamal mendekam di penjara karena terlibat dalam jaringan Jamaah Ansharus Daulah (JAD) dan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). “Lama (dipenjara) di Polda Metro Jaya,” katanya.

Ia menyebut, pencekalan itu merupakan dampak status eks napiter yang paling menyusahkan. Gamal khawatir hal serupa bakal dialami di negara lain, seperti Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan negara-negara Eropa. Sedangkan di negara, seperti Turki dan Arab Saudi, Ia tak mengalami kendala.

“Kan background kita yang dipermasalahkan. Kalau tetangga ngomongin, enggak ngefek ke kita. Tapi, kalau sudah mengganggu dapur, itu yang masalah,” ucapnya.

Usaha usai dipenjara

Munir mengakui, perekonomian keluarganya terseok-seok usai ia bebas. Anak sulungnya harus menunda sekolah setahun, saat lulus SMP tak langsung masuk SMA, karena ketiadaan biaya.

“Namanya baru pulang, kita belum ada pekerjaan apa-apa,” ucapnya.

Selama ia di bui, istri dan anak-anaknya mengandalkan uang dari warung yang menjual bahan-bahan kebutuhan pokok. Modal buka warung dibantu para kerabatnya. Hingga kini, pemasukan keluarganya hanya bergantung dari usaha warung.

“Kalau mau mencari kerja, saya bingung. Pasti mentok di SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian),” kata Munir.

Keluarganya juga pernah mendapat bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 Anti Teror. Bantuan itu dimanfaatkan untuk usaha warungnya.

Selain menjaga warung, Munir tengah menulis buku tentang peristiwa bom Mapolresta Solo, bersama Bambang. Ia pun aktif menulis untuk beberapa situs web.

Bersama istrinya, Munir tengah berjuang membuat rumah pintar untuk dijadikan tempat belajar alternatif bagi anak-anak.

Di masa-masa awal bebas, Iqbal mencari modal usaha dengan cara utang. Dapat uang Rp8 juta, ia membuka usaha berjualan bubur bayi.

Selain itu, Iqbal pun aktif menjalankan usaha telur puyuh di Yayasan DeBintal—sebuah unit usaha yang didirikan beberapa eks napiter. Ia menjabat sebagai humas di yayasan tersebut. Di samping itu, ia pun mencari nafkah sebagai driver aplikasi jasa antarmakanan.

Sementara itu, sebelum ditangkap, Gamal bekerja di salah satu bank milik negara. Usai bebas, ia merasakan susahnya mencari kerja dan memilih buka usaha.

“Makanya karena saya punya visi membuat usaha, saya ajukan bagan ke Pak Shodiq (MD Shodiq, mantan Direktur Idensos Densus 88). Saya mau buat yayasan,” ujarnya.

“Pak Shodiq juga mau buat wadah, ketemu saya. Saya ajukan. Sampailah sekarang jadi.”

Wadah yang dimaksud adalah Yayasan DeBintal, yang berlokasi di Babelan, Bekasi, Jawa Barat. Menurut Gamal, yayasan itu mulanya dijalankan 15 eks napiter, dengan usaha ayam potong dan percetakan yang dibuka pada akhir 2020.

“Jadi orang tutup (usaha karena pandemi) saya buka. Makanya saya enggak berhasil di (usaha) potong ayam,” kata pria 29 tahun itu.

Sementara usaha percetakan masih berjalan. Meski naik-turun. Sebab, modal untuk usaha tak sedikit dan sumber daya manusianya banyak. Kini, ada tujuh orang yang bertahan menjalankan usaha di yayasan tersebut.

Lantas, sejak Maret 2022,Yayasan DeBintal mengelola peternakan burung puyuh petelur. Sehari bisa menghasilkan 10.000 butir telur puyuh. Usaha burung puyuh itu ada juga berkat bantuan Densus 88. Kini, tak hanya telur yang dijual, tetapi juga burung puyuh siap telur.

“Kita beli dari bayi (burung puyuhnya), kita besrkan. (Kalau) sudah bisa bertelur, kita jual,” katanya. “Kalau ada yang mau belajar ternak, (bisa) datang (ke sini), gratis.”

Saat ini, Gamal pun tengah merintis PT Bismillah Umroh Mandiri bersama keluarganya. “(Ini) usaha travel umrah,” ujar dia.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.