Keputusan untuk menciptakan dana kompensasi bagi negara-negara miskin yang menjadi korban cuaca ekstrem ini merupakan kemenangan besar bagi negara-negara miskin yang telah lama meminta uang tunai – yang seringkali dipandang sebagai ganti rugi – karena negara-negara itu sering menjadi korban bencana iklim meskipun hanya berkontribusi sedikit pada polusi yang memanaskan bumi. Pembicaraan tahun depan, di Uni Emirat Arab, akan mengevaluasi negosiasi lebih lanjut untuk menyusun rincian dana baru.

Presiden pembicaraan iklim tahun lalu yang juga Presiden COP26, Alok Sharma dari Inggris, mengkritik kepemimpinan KTT tahun ini karena mengurangi upayanya untuk berbuat lebih banyak guna mengurangi emisi dengan daftar yang jelas tentang apa saja yang telah gagal dilakukan.

Presiden COP26, Alok Sharma

Alok Sharma mengatakan bahwa kepemimpinan KTT bergabung dengan banyak pihak untuk mengusulkan sejumlah tindakan yang akan berkontribusi pada penciptaan dana iklim, sebelum mendaftar sejumlah elemen yang “tidak ada dalam teks kesepakatan tersebut.”

“Kita juga ingin mengambil langkah-langkah definitif ke depan. Kita bergabung dengan banyak pihak untuk mengusulkan sejumlah tindakan yang akan berkontribusi pada hal ini. Menurut sains – yang tidak tercantum dalam teks ini – emisi kian memuncak sebelum tahun 2025. Tindak lanjut yang jelas tentang pengurangan bertahap terhadap penggunaan batubara – juga tidak dalam teks ini. Komitmen yang jelas untuk menghapus semua jenis bahan bakar fosil – tidak ada dalam teks ini dan teks mengenai energi semakin melemah pada menit-menit pembicaraan terakhir,” kata Sharma.

Menteri Lingkungan Maladewa Aminath Shauna mengatakan kesepakatan untuk menciptakan dana bagi negara-negara berkembang yang terkena dampak perubahan iklim yang diperparah dengan emisi oleh negara-negara kaya telah menciptakan “perjanjian kepercayaan baru” antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang.

Shauna mengatakan, “Kami menjelaskan selama dua minggu terakhir bahwa ambisi mitigasi merupakan landasan dari hasil (pembicaraan) kita di sini, di COP27. Saya kecewa, kita tidak sampai di sana. Mengapa kita mencoba mengatasi kerugian dan kerusakan? Karena kita telah gagal dalam mitigasi dan adaptasi.”

Sementara itu, Lia Nicholson, dari delegasi dari Antigua dan Barbuda mengatakan, “Menciptakan dana ini memberi sinyal kepada dunia bahwa kerugian dan kerusakan tidak lagi hanya ditanggung oleh pemerintah dan warga (negara-negara) yang paling jauh dari keharusan memikul tanggung jawab. Hari ini kita langkah menuju keadilan iklim.”

Kesepakatan itu dicapai menjelang fajar di kota resor Laut Merah Sharm El-Sheikh, Mesir.

“Untuk Afrika, saya pikir itu adalah peristiwa penting,” kata Collins Nzovu, menteri lingkungan hidup Zambia dan ketua Grup Afrika.

“Salah satu masalah yang sangat, sangat penting bagi kami adalah tentang kerugian dan kerusakan. Ketika kerugian dan kerusakan pertama kali dimasukkan ke dalam agenda dan berbagai pertimbangan yang berlangsung, yang berpuncak pada kerangka kerja untuk mewujudkan kerugian dan kerusakan bagi Afrika, saya kira itu adalah kesempatan penting bagi kami. Jika kami ingin mengukur keberhasilan COP28, maka itu (tolok ukurnya) adalah masalah yang sangat, sangat, sangat penting ini,” tambahnya.

Keputusan itu juga telah lama disebut sebagai “kesetaraan” bagi negara-negara yang dihantam oleh cuaca ekstrem dan negara-negara pulau kecil yang menghadapi ancaman eksistensial akibat naiknya air laut.

Sementara itu, Sherry Rehman, Menteri Lingkungan Pakistan menyatakan kegembiraannya dengan kesepakatan yang dicapai dalam COP27.

“Yah, saya senang itu berhasil. Saya senang itu diputuskan. Kami tegang selama dua malam. Kami belum tidur. Jadi, (kesepakatan) itu mungkin bukan yang terbaik, tetapi ini adalah awal, kesepakatan yang optimal,” kata Rehman.

Kesepakatan tersebut direvisi dalam semalam, dengan menghilangkan sebagian besar elemen yang ditentang oleh utusan Eropa, tetapi tidak menambahkan apa pun yang mereka harapkan. [lt/em]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.