Salah satu toko tas dan aksesori bergengsi yang memanfaatkan pirarucu atau juga dikenal sebagai arapaima raksasa, adalah Piper & Skye. Alison Moodie Collins, kepala humasnya, mengatakan, pemanfaatan kulit ikan itu adalah bagian dari kepedulian perusahaannya terhadap lingkungan.

“Pirarucu adalah salah satu bahan dasar produk-produk Piper & Skye. Ikan besar yang melimpah di Sungai Amazon ini telah dikonsumsi oleh masyarakat selama berabad-abad. Setelah dagingnya dikonsumsi, kulitnya biasanya dibuang sebagai limbah. Kami memutuskan untuk mengambil kulit yang dibuang itu dan membawanya kembali ke New York untuk membuat tas mewah dan cantik,” jelasnya.

Piper & Skye memanfaatkan kulit ikan itu untuk membuat tas bahu, tas pinggang, dompet, dan sepatu yang harganya bisa mencapai $850 per satuan.

Perusahaan penyamakan kulit Nova Kaeru adalah salah satu penyuplai kulit pirarucu ke New York. Terletak di pinggiran Rio de Janeiro, perusahaan itu memproses sekitar 50.000 kulit dari ikan itu yang ditangkap secara legal setiap tahunnya.

Alex Dabagh melihat prototipe saat merakit tas kulit pirarucu, Rabu, 2 November 2022, di New York.(AP/Julia Nikhinson)

Daniel Abruzzini, seorang staf humas Nova Kaeru, menceritakan betapa meningkatnya permintaan akan kulit pirarucu.

“Aksesori apa pun yang terbuat dari kulit tradisional juga dapat dibuat dengan kulit ikan. Kami menjual produk kami ke pasar internasional, pasar mode Eropa, pekan mode di seluruh dunia, ke merek-merek besar yang memproduksi jaket. Produksi kami juga masuk ke pasar Amerika,” komentarnya.

Tingginya permintaan menimbulkan kekhawatiran akan ekploitasi berlebihan pirarucu. Ikan yang dapat tumbuh hingga sepanjang tiga meter ini sempat menjadi spesies yang terancam punah karena penangkapannya yang berlebihan.

Seorang pria memisahkan kulit dari tubuh ikan pirarucu di pabrik pendingin industri Asproc, Asosiasi Produsen Pedesaan Carauari, Amazonia, Brazil, Rabu, 31 Agustus 2022. (AP/Jorge Saenz)

Berkat usaha para aktivis lingkungan dan pemerintah setempat, masalah itu kini telah teratasi. Para nelayan kini hanya diizinkan menangkap sekitar 30% dari prakiraan populasi total ikan itu. Dengan pembatasan itu, populasi pirarucu telah pulih sehingga memungkinkan diizinkannya penangkapan skala besar.

Kulit pirarucu awalnya dimanfaatkan dalam skala cukup signifikan di Texas. Kala itu, kulit ikan itu digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sepatu bot. Namun kemudian para pemerhati mode tertarik untuk memanfaatkan lebih jauh hingga menyebar ke kota-kota besar di AS, termasuk New York. [ab/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.