Seakan tertutup dengan pesona kabupaten di sekitarnya, Jember ternyata punya Kekayaan Alam yang diakui dunia. Bisa dikatakan, setiap kekayaan alam yang dihasilkan di tanah Jember ini selalu diminati negara lain. Mirisnya kenapa di negara sendiri kurang menggema?

Jember merupakan salah satu kabupaten yang ada di Selatan Provinsi Jawa Timur. Daerah yang memiliki 2,6 juta penduduk ini, jika dilihat dari letak geografis, ternyata masuk dalam grup maut.

Bagaimana tidak, di Sebelah Timur, ada Banyuwangi yang pariwisatanya sudah kelas dunia. Sementara di Sebelah Barat ada trio, Malang dan Lumajang yang tak diragukan lagi pariwisatanya. Sedangkan di Utara, Probolinggo dan Bondowoso sudah mulai merangkak.

 

Strategi bubur ayam

Menyikapi itu, Ir. Hendy Siswanto, yang merupakan Bupati Jember mencoba memberikan penalarannya saat menjamu Himpunan Anak Media (HAM) di Pendopo Wahyawibawagraha Jember, Selasa 22 November lalu. Bupati Hendy mengatakan tentang strategi bagaimana daerahnya bakal menjadi salah satu kekuatan pariwisata di Jawa Timur dan tak lagi dipandang sebelah mata.

Bupati Hendy menganut konsep strategi Bubur Ayam panas ketika sedang lapar. Dalam kondisi seperti itu, ia lebih memilih menyendok bagian pinggir, ketimbang tengahnya. Karena yang di pinggir paling tipis, ketimbang di tengah lebih tebal panasnya.



Bupati Jember, Ir, Hendy Siswanto saat memberi sambutan di depan Himpunan Anak Media. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Analoginya, sistem yang Bupati Hendy lakukan adalah diferensialnya. Ia lebih fokus di pinggiran Jember, untuk ‘mengeker’ peluang apa yang dimiliki. Kemudian, Bupati Hendy pun mengambil 5 persen peluang di bagian terluar Jember tersebut.

“Ada Probolinggo tetangga kami, kami juga dijepit Bondowoso dan Situbondo, kemudian ada juga Banyuwangi. Saya towelin aja 5 persen penduduk di daerah-daerah tersebut, mereka yang warga Banyuwangi yang di pinggir, pasti datang ke Jember. Kenapa? lebih dekat Jember daripada mereka ke Banyuwangi,” ujar Hendy.

“Kalau saya tambah dengan orang Jember dan ditambah 5 juta dari kabupaten sekitar, maka ini akan terbuka pasar istimewa buat Jember,” tegasnya.

Yang pertama kali dilakukan dalam 8 bulan masa aktifnya, Bupati Hendy ini fokus pada infrastruktur jalan menuju Jember Kota dan lampu penerangan PJO. Menurutnya, infrastruktur jalan itu adalah urat nadi.

Bupati Hendy fokus memperbaiki jalan sepanjang 1200 km dan memasang 30 ribu lampu dalam waktu 8 bulan awal kinerja. Hingga saat ini, masih ada 700 km lagi infrastruktur jalan yang harus dibangun.

 

Membangkitkan UMKM dan Pariwisata lewat Nobar Piala Dunia

Begitu infrastruktur bagus, Bupati Hendy menggelar Nonton Bareng Piala Dunia di alun-alun Kota Jember atau di seberang Pendopo lewat kolaborasi dengan pihak swasta. Terbukti, strategi ini membuat warga perbatasan di kabupaten tetangga tertarik untuk datang nobar.

“Karena kabupaten sekitar Jember belum sempat memikirkan itu,” terang Hendy.

Menariknya lagi, setiap UMKM yang ingin ikut menjajakan dagangannya tak lagi dipungut biaya. Tak lupa, Bupati Hendy pun membeberkan Cara mengakselerasi Jember yaitu dengan branding.



Jember mendunia juga karena adanya Jember Fashion Carnaval. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

“Jember tak perlu malu untuk membranding dengan suatu event yang sudah eksis, sebut saja seperti Jember Fashion Carnaval, terus memanfaatkan momentum Piala Dunia Qatar 2022, kemudian membonceng event Jember Kota Cerutu Indonesia, dan seterusnya,” lanjut Bupati Hendy.

Sementara untuk pariwisata yang akan dikembangkan, Bupati Hendy telah memiliki konsep untuk membuat salah satu destinasi andalan Jember, yaitu Tanjung Papuma lebih ciamik.

“Nanti kami akan membuat jembatan melingkar yang mengelilingi gunung, tinggal pelaksanaannya,” ujar Hendy.



Wisatawan sedang mengabadikan momen dengan berswafoto di puncak Siti Hingcil. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Papuma sendiri singkatan dari Pasir Putih Malikan. Destinasi wisata yang berjarak lebih kurang 34 km dari Pusat Kota ini tak hanya menjual pesona pantainya, melainkan terdapat Wihara Sri Wulan, puncak Siti Hingcil, dan kawasan ini masih masuk dalam hutan lindung yang terjaga keasliannya, sehingga menjadikannya salah satu surga bagi penggemar fotografi. Lalu apa pertama Jember yang disukai oleh dunia?

 

Punya Badan Riset Kopi dan Kakao Tertua di dunia

Memiliki sejarah panjang tentang kopi yang datang ke Indonesia, Jember punya Pusat Penelitian Kopi dan Kakao atau kerap disingkat Puslit Koka, yang berada di Gebang, Nogosari, sekitar 19 km dari pusat Kota Jember.

“Puslit Koka ini telah didirikan sejak 1 Januari 1911. Terdapat kebun percobaan dan areal kantor seluas 380 hektar,” ungkap Ucu Sumirat, SP. M.Sc, yang merupakan Kepala Bagian Usaha Puslit Koka saat menyambut rombongan HAM Jakarta.

Area tersebut meliputi kebun percobaan kopi arabika (KP. Andungsari ketinggian 100-1.200 m dpl.), kopi robusta dan kakao (KP. Kaliwining dan KP. Sumberasin ketinggian 45-550 m dpl.). Ada juga laboratorium yang memiliki luas 2.365 m2 dengan peralatan sejumlah 850 unit.



Pusat Penlitian Kopi dan Kakao Indonesia. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Tak hanya itu, di Puslit Koka ini juga memiliki laboratorium Pemuliaan Tanaman, Laboratorium Fisika Tanah, Kimia Tanah dan Biologi Tanah, Laboratorium Kultur Jaringan, Laboratorium Mekanisasi Pertanian, Laboratorium Pengolahan Hasil, Laboratorium Pengawasan Mutu, Pusat Informasi dan Pelatihan.

Koleksi buku dan majalah di perpustakaan ini juga mencapai 38.706 judul dan 38.983 eksemplar, terdiri atas 7.622 judul artikel tentang kopi, 5.024 judul artikel kakao, dan lebih dari 15.677 judul artikel tentang karet, tembakau, dan tanaman lainnya.

Untuk Puslit Koka, saat ini hanya ada dua di dunia, pertama di Prancis dan kedua di Jember, Indonesia yang sudah ada sejak 1911. Hanya saja, nama Puslit Koka ini masih belum bergema layaknya penonton di dalam stadion.

“Kehadiran Puslit Koka masih belum maksimal. Ibarat tendangan bola masih setengah tiang. Artinya belum terlalu populer. Padahal di dunia itu cuma ada dua di Indonesia dan Prancis. Pun demikian dengan Papuma, dari dulu hingga sekarang masih seperti itu,” lanjut Bupati,” terang Bupati Jember, Hendy.

 

Melek tembakau di museumnya

Melipir ke pusat kota, ada Museum Tembakau di Jember. Identik dengan rokok, tembakau bukan sekadar itu. Di Museum Tembakau ini, kita akan mendapatkan pengetahuan lebih luas tentang sejarah dan olahan tembakau.

Kehadiran museum ini juga lantaran Jember menjadi salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Museum ini dilengkapi dengan banyak tembakau seperti tembakau Kasturi dan Besuki Na Oogst.

“Museum ini juga sebagai etalase menginformasikan kepada masyarakat tentang manfaat tembakau. Pengujian ekspor keluar juga dari sini petugasnya. Karena di Surabaya sudah dikit tembakaunya. Lebih banyak ke Jember karena di sini tanahnya subur dan iklim yang bagus. Terutama pada embun yang dianggap oleh pakar memengaruhi aroma tembakau,” ujar Sunito perwakilan dari Museum Tembakau dan Perpustakaan Jember.



Tak cuma cerutu atau rokok, tembakau juga bisa diolah dengan beragam produk. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

“Kita juga mengekspor tembakau dalam bentuk vapir dan dikirim ke luar dalam bentuk potongan. Sesuai kebutuhan pasar. Dan yang tak kalah menarik, limbah tembakau yang diversifikasi, bisa menghasilkan pestisida, balsem, briket, asap kain, karet kayu, pelet, dan parfum,” terang Sunito.

Perlu diketahui, tujuan museum ini bukan sekadar meneliti tembakau untuk rokok atau cerutu saja, melainkan bisa dilihat dari sisi ekonomi, di mana tembakau juga menjadi penyumbang devisa terbanyak untuk negeri ini.

 

Semerbak cerutu dari BIN Cigar

Bicara tembakau, tak lepas dari cerutu, yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dengan Jember. Sehingga, tak disangkal kalau Jember dijuluki Kota Cerutu.

Melansir suratkabar lokal, Radar Jember terbitan Minggu 13 Agustus 2017 silam, sejak dua abad silam Jember dikenal sebagai pemasok tembakau cerutu terbaik di dunia. Dan salah satu produsen tembakau yang dimiliki Jember adalah Bos Image Nusantara (BIN) Cigar.

Di sini, rombongan Himpunan Anak Media (HAM) Jakarta berkesempatan mengulik lebih dalam bagaimana sejarah dan produksi cerutu ala BIN Cigar. Saat masuk ke pabrik BIN Cigar, semerbak aroma tembakau langsung membuncah di dalam ruangan.

Briket dari beberapa tungku yang ada di setiap sudut mampu memberikan suhu yang hangat. Suhu yang sangat dibutuhkan bagi tiap lembar tembakau yang akan digunakan untuk wrapping Cigar.



Binding menjadi salah tahapan pembuatan cerutu hanya dengan menggunakan tangan. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Usut punya usut, merek BIN Cigar lahir lantaran pendirinya, Abdul Kahar Mudzakir, menganggap cerutu identik dengan bos. Hal itu ia cetuskan, ketika melihat salah satu pengunjung Botanical Garden mengisap cerutu.

Selain itu, BIN Cigar membeberkan rahasia mereka ke 25 media rombongan HAM tentang proses pembuatan cerutu. Mulai dari pemilihan daun tembakau, hingga pengemasan batang cerutu dimasukkan ke dalam kotak. Begitu mewah sekali.

“Yang kita lihat saat ini adalah proses membuka fermentasi. Nanti ada fermentasi lagi sekitar 2 minggu sampai 1 bulan. Baru setelah itu ke arah ukur. Abis ukur ke arah sortasi, untuk memisahkan yang cacat, warna dasar, kualiti dan detail warna,” terang Febri Ananta Kahar, CEO BIN Cigar.

Meski baru berdiri sekitar 8 tahun yang lalu, BIN Cigar telah memproduksi ke beberapa daerah di Indonesia dan ke 15 negara, serta telah memiliki 24 merek.

 

Setiap langkah ada Edamame

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di tanah nan subur milik Jember, kami langsung bertemu dengan edamame. Ya, kacang kedelai khas Jepang, yang nyatanya sangat subur tumbuh di Jember.

Tak ayal, Mitra Tani 27 yang merupakan perusahaan swasta ini fokus di komoditas unggulan Jember, Edamame. Berdiri di Jember secara legal pada 1994, Mitra Tani mengawalinya dengan pelatihan budidaya edamame, yaitu antar PT mitra tani terpadu dengan PT Perkebunan 27 Persero.

Tak memakan waktu yang banyak, pada 1995 Mitra Tani 27 mulai memproduksi dengan ditandai ekspor Edamame ke Jepang. Kemudian pada 1997 perusahaan melanjutkan produksi dan melanjutkan pemarasan produk secara komersial dengan fokus mengekspor ke Negeri Sakura.



Selain edamame, Mitra Tani 27 juga memproduksi Okra dan Buncis dalam bentuk frozen. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Kemudian sembilan tahun berlalu, atau tepatnya pada 2006 Mitra Tani 27 secara tegas menghentikan impor benih. Itu lantaran mereka berhasil memproduksi multiplikasi benih edamame secara mandiri. Saat ini saham PT Mitra Tani 27 dimiliki PT Perkebunan nusantara 10 sebesar 65 persen, dan PT Kelola Mina Laut sebesar 35 persen.

Singkat cerita, Edamame telah menjadi makanan yang selalu ada di setiap kami berada, bahkan bervariasi. Mulai dari edamame dalam bentuk asli, dibuat seperti kacang garing, hingga minuman yang bermerek Jusme.

Perlu diketahui, Jepang sudah menjadi pelanggan pertama edamame. Kemudian disusul Eropa yang menjadi tujuan terbesar kedua. Setidaknya, 1000 ton untuk dua negara di Benua Biru, yaitu Jerman dan Belanda.

Sayangnya, peminat edamame di Indonesia sendiri tak sebanyak di luar negeri, paling hanya 100 ton per tahun. Pasalnya butuh edukasi ke masyarakat bahwa produk frozen itu jauh lebih baik, mudah, serta higienis. Nyatanya, masyarakat masih mencari yang segar saja.

“Peminatnya ini lebih ke orang kota. Saya berharap bahwa pasar besar kita adalah Surabaya dan Jakarta. Makanya edukasi tentang manfaat konsumsi edamame dan produk frozen lain itu penting, sehingga harapan kami, produk terbesar kami sampai 10 ribu ton per tahun,” terang Arif Suharyadi, selaku Direktur Mitra Tani 27.

 

HAM adalah jendela dunia

Walau sudah mendunia, edamame dan juga kekayaan alam Jember yang disebutkan di atas seakan kurang menggema di negeri sendiri. Di sinilah, HAM dianggap menjadi jendela dunia bagi Jember, seperti yang diutarakan Bupati Hendy saat menjamu rombongan media dari Jakarta di pendoponya. Baginya, peran HAM sangat penting untuk menyingkap kekayaan alam yang dimiliki Kota Cerutu ini.

“Pun demikian halnya dengan HAM ini yang saya anggap sebagai Jendela Dunia, maka tolong dikoreksi dan berikan masukan untuk segala kekurangan Jember untuk lebih baik lagi. Ini pun salah satu bentuk membranding Jember ke media,” pungkasnya.



Bupati Jember Hendy Siswanto dengan Ketua HAM, Arief Suharto. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

Dengan adanya awak media dari Jakarta bertamu ke Jember, Bupati Hendy menekankan, sudah saatnya Kabupaten Jember berbenah. Dengan tiga pilar utama yaitu, berkolaborasi, bersinergi dan akselerasi.

“Cara mengakselerasi Jember adalah dengan branding. Jember tak perlu malu untuk membranding dengan suatu event yang sudah eksis, sebut saja seperti Jember Fashion Carnaval, terus memanfaatkan momentum Piala Dunia Qatar 2022, kemudian membonceng event Jember Kota Cerutu Indonesia, dan seterusnya,” lanjut Bupati Hendy.

 

Upaya putra daerah Jember

Melihat Jember mendunia, namun senyap di negeri sendiri seakan menikmati sayur tanpa garam. Hal itulah yang dialami Andhy Irawan, MBA, Putra Kelahiran Jember.

Andhy yang juga CEO Dafam Hotel Management menyampaikan, Kabupaten Jember ini potensinya luar biasa. Namun ia mengaku masih kurang hal apalagi untuk menjadikan Jember menjadi luar biasa lagi.



Andhy Irawan, MBA, CEO Dafam Hotel Management. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

“Terus terang saya terpicu dengan kerja keras Bupati Jember dalam mempromosikan daerahnya. Guna mengimbangi kerja kerasnya, saya sebagai putra daerah memboyong Himpunan Anak Media (HAM) asal Jakarta untuk mengeksplorasi potensi wisata yang ada di daerah ini ke level nasional bahkan internasional,” ujar Andhy.

Bak gayung bersambut, upaya itu terwujud, lantaran Himpunan Anak Media menjadikan Jember menjadi destinasi ulang tahun ke-15 mereka.



Ketua HAM Arif Suharto, Bupati Jember Hendy Siswanto, CEO DHM Andhy Irawan, dan Febri Ananta Kahar, CEO BIN Cigar berfoto bersama di Pendopo Pendopo Wahyawibawagraha Jember. (Foto: A. Firdaus/Medcom.id)

“HAM ingin mengeksplorasi di kota berlangsungnya Jember Fashion Carnaval. Jember kaya akan potensi pariwisata dan produk ekonomi kreatif. Dan HAM, akan ambil bagian untuk menyampaikan pesan bahwasannya Kabupaten Jember siap menerima kunjungan wisatawan sebagaimana kampanye mereka yakni Jember Keren,” ujar Arief Suharto, Ketua Himpunan Anak Media.

Arief pun menambahkan, HAM siap berkolaborasi dan mengakselerasi pemerintah Jember dan para stakeholder pariwisata untuk memulihkan perekonomian secara cepat dan berkembang lebih tangguh lagi.
(FIR)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.