Rangkaian kegiatan Muktamar ke 48 Muhammadiyah dan Aisyiyah selesai, Sabtu malam ( 20/11). Lebih dari satu juta muktamirin, diantaranya 2.600 pemilik hak suara sudah menyalurkan aspirasi dalam kepengurusan baru Muhammadiyah periode 2022-2027.

Haedar Nashir kembali memperoleh suara terbanyak dan melanjutkan kepemimpinan periode kedua. Surat keputusan hasil muktamar itu dibacakan langsung oleh Sekretaris Umum Muhammadiyah, Abdul Mu’ti di hadapan Wakil Presiden Ma”ruf Amin, sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju dan ribuan muktamirin yang memadati Auditorium Universitas Muhammadiyah Surakarta UMS.

Haedar Nashir peserta pertama pengguna hak pilih dalam e-voting di Muktamar Muhammadiyah, Sabtu malam (19/11). (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

“Surat Keputusan Muktamar ke 48 menyatakan Prof Haedar Nashir sebagai Ketua Umum Muhammadiyah periode 2022-2027,” tegas Mu’ti.

Muktamar ke 48 Muhammadiyah ini sempat tertunda dua tahun karena pandemi COVID.

Pemungutan Suara dengan E-voting

Kepengurusan baru pimpinan pusat Muhammadiyah ini terdiri dari 13 orang terpilih, empat di antaranya wajah baru. Prosesi pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara elektronik atau e-voting. Sebanyak 2.600 pemilih menyalurkan hak pilihnya melalui 50 perangkat E-voting yang disiapkan dalam pemilihan. Teknologi e-voting ini jauh lebih efektif dibanding memakai proses pemungutan suara secara manual.

Pantauan VOA, selama hari Sabtu dan Minggu, 2.600 muktamirin yang memiliki hak pilih itu bergantian memasuki deretan bilik suara yang berjajar di samping kanan dan kiri ruangan sidang. Sebelum pemungutan suara, muktamirin menunjukkan barcode khusus pemilihan. Dari 13 orang tim formatur yang terpilih sebagai pengurus baru Muhammadiyah itu, empat di antaranya termasuk wajah baru.

Sidang e-voting pemilihan Pengurus Pusat dalam Muktamar Muhammadiyah, Sabtu malam (19/11). (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Perkembangan teknologi dan keterlibatan generasi milenial juga menjadi sorotan hasil Muktamar. Point hasil itu menyatakan Muhammadiyah selalu mengkaji perkembangan teknologi yang cepat dan pesat demi kebaikan umat.

Merespons Dinamika Tahun Politik 2024

Berbeda dengan sikap Muhammadiyah yang selama ini menjaga jarak dalam politik, saat ini lebih melunak. Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan relasi yang ditekankan adalah relasi kebangsaan. Haedar tidak memungkiri banyak kader Muhammadiyah yang menempati jabatan politis.

“Terkait relasi politik, dalam 5 tahun mendatang akan kita lakukan. Sebagaimana hukum dinamika, kami akan terus melakukan relasi kebangsaan sebab relasi kebangsaan itu politik, ekonomi, budaya, keagamaan, dan berbagai lini. Ada tekanan pada relasi politik kebangsaan tentu kami ini kan ormas, tentu ada partai politik, kekuatan politik, TNI Polri, saya pikir itu sesuatu yang positif dan menjadi agenda yang akan kita lakukan”, jelas Haedar.

Peserta Muktamar yang memiliki hak pilih menunjukkan barcode e-voting, Jumat (18/11). (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Peserta Muktamar yang memiliki hak pilih menunjukkan barcode e-voting, Jumat (18/11). (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Sementara itu Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengingatkan agar pilihan sikap politik tidak memecah persatuan bangsa, termasuk di dalam Muhammadiyah. Menurut Ma’ruf, beda pilihan politik individu sebagai hal biasa.

“Pemilu yang akan datang baik Pilpres, Pileg, itu tidak mengoyak keutuhan dan persatuan kita. Perbedaan partai, perbedaan Capres sebagainya tidak membelah keutuhan bangsa ini. Sering saya katakan, kalau kita berbeda capres, beda partai jangan sampai tidak akur. Apalagi sama-sama Muhammadiyah,” jelas Ma’ruf.

Toleransi dan Gotong Royong Dijunjung Tinggi

Wakil Presiden Ma’ruf Amin Ma’ruf juga menambahkan sikap toleransi dan dasar Pancasila menjadi sumber rujukan sejumlah negara lain dalam mempelajari Indonesia. Di hadapan ribuan muktamirin Muhammadiyah saat penutupan Muktamar, Minggu malam (20/11), Ma’ruf mengklaim perwakilan sejumlah negara ingin belajar langsung bagaimana kehidupan bernegara di Indonesia yang berideologi Pancasila yang menjunjung tinggi sikap toleransi dan gotong royong.

“Banyak negara lain datang ke Indonesia belajar langsung tentang toleransi dan gotong royong. Ideologi Pancasila menjadikan bangsa ini tetap kokoh meski masyarakatnya memiliki ragam perbedaan. Ini bukti Indonesia sangat disegani negara lain,” pungkas Ma’ruf.

Perwujudan toleransi dan gotong royong di Muktamar Muhammadiyah ini tampa jelas ketika kelompok-kelompok warga non Muslim turut menyiapkan fasilitas untuk muktamirin. Juru bicara pengelola gereja di Manahan, Trisetya Wahyu Nugroho mengatakan pihaknya menyediakan ruangan penginapan, tempat parkir dan membagikan tiga ribu paket makanan dan minuman untuk muktamirin.

“Paket isinya roti, seperti roti semir dan air mineral untuk peserta Muktamar.Jemaat yang terlibat ada 50-an orang. Itu tidak hanya yang membagikan roti, ada juga yang bantu parkir, keamanan, dan sebagainya,” kata Trisetya.

Roti-roti yang dibagikan bantuan dari jemaat gereja

Tak hanya gereja, puluhan sekolah milik Yayasan Katolik maupun Kristen di Solo, Karanganyar, dan Sukoharjo yang dekat lokasi muktamar melakukan langkah serupa. Mereka meliburkan kegiatan di sekolah karena bangunan sekolah dipakai muktamirin. [ys/em]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.