SURYA.CO.ID, GRESIK – Ritual dagelan pernikahan manusia dan domba di Pesanggrahan Ki Ageng Desa Jogodalu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik pada u5 Juni 2022 silam, menjadi konten menjijikan dan dikecam masyarakat. Meski begitu, empat orang pelaku yang kemudian menjadi terdakwa atas penistaan agama, ternyata mengaku tidak menyesal dengan perbuatannya.

Hal itu disampaikan para terdakwa dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Gresik dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa, Rabu (25/1/2023).

Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gresik, Moch Fatkur Rochman, dan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan (JPU), Danu Bagus Pratama. Sedangkan empat terdakwa yang didamping penasihat hukum mengikuti sidang secara online dari Rumah Tahanan Kelas IIB Gresik.

Dari empat terdakwa dengan berkas terpisah saat dikonfirmasi Jaksa Danu Bagus apakah ada penyesalan dalam kegiatan pernikahan manusia dengan domba, secara mengejutkan mereka mengatakan tidak menyesal. Sebab, alasannya kegiatan tersebut merupakan sebuah konten di media sosial (medsos) untuk menghibur masyarakat.

Empat terdakwa itu masing-masing adalah Nur Hudi Didin Ariyanto, selaku pemilik pesanggrahan Keramat Ki Ageng di Desa Jogodalu, Kecamatan Benjeng yang digunakan untuk acara pernikahan manusia dengan domba. Terdakwa lainnya yaitu Saiful Fuad atau Arif Saifullah (Gus Arif) sebagai conten creator, Saiful Arif sebagai pengantin laki-laki dan Sutrisna sebagai penghulu.

Ketika dalam persidangan online, empat terdakwa secara bergantian mendapat pertanyaan dari JPU. Dan dengan tegas, empat terdakwa mengatakan tidak menyesal, sebab kegiatan tersebut merupakan konten untuk menghibur masyarakat. “Kalau untuk konten, tidak menyesal yang mulia. Sebab, untuk menghibur,” kata Sutrisna.

Namun, JPU menegaskan bahwa dalam kegiatan pernikahan manusia dengan domba ada rangkaian menyebut nama Allah dan mahar. “Karena untuk konten, yang mulia. Dan masyarakat saat itu juga terhibur,” kata Sutrisna.

Begitu juga dikatakan terdakwa Saiful Fuad alias Arif Saifullah selaku pemilik konten. Ia mengaku terinspirasi dari keadaan bangsa yang memasuki tahun politik, agar jangan sampai diadudomba.

“Kenapa ada ide menggunakan kata Allah atau disambungkan ke Islam? Ya karena saya muslim. Selain tujuan awal untuk konten, hanya hiburan yang ada pesan moralnya. Terus terang saya tidak merasa bersalah, karena dari awal niat saya lurus,” kata Fuad.

Sementara Saiful Arif selaku pengantin pria mengatakan, perannya atas arahan sutradara yakni Saiful Fuad. “Saya mau karena memang diberi peran itu. Kalau untuk konten, saya tidak apa-apa. Kalau menikah beneran, saya tidak mau, istri saya sudah cantik. Saya tidak menyesal karena itu memang konten,” kata Saiful.

Para terdakwa dijerat dengan pasal yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu Pasal 156a KUHP juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Serta Pasal 45 A Ayat (2) juncto Pasal 28 Ayat (2) Undang-undnag RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gresik Moch. Fatkur Rochman akhirnya ditunda pekan depan Pada Kamis (2/2/2023). “Sidang dengan agenda tuntutan pada pekan depan,” kata Fatkur Rochman. ****


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.