Minyak makan merah. (Dok. KemenKopUKM).

Seperti halnya minyak goreng biasa, minyak makan merah diproduksi dari buah kelapa sawit. Perbedaannya terletak pada proses pemurniannya (refined).

Jika minyak goreng biasa telah melalui tahap bleaching (proses yang membuat warna minyak goreng menjadi bening), minyak makan merah justru mempertahankan keaslian warna merah yang berasal dari warna asli buah sawit. Sebab, di situlah terkandung karotenoid, zat bergizi yang menyehatkan. 

Karotenoid adalah senyawa kimia yang memberi warna alami pada buah dan sayuran. Karotenoid termasuk dalam keluarga antioksidan yang dapat melindungi manusia dari berbagai risiko penyakit dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 

Minyak makan merah diketahui memiliki kandungan vitamin A dan E yang tinggi. Dengan begitu, minyak makan merah dapat berperan mengatasi persoalan stunting atau kekerdilan karena kekurangan vitamin A dan E, terutama di wilayah pedesaan. 

Untuk menjamin kualitas produk, Badan Standarisasi Nasional (BSN) telah mengeluarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produksi massal minyak makan merah. 

Lantaran proses penyulingannya yang lebih pendek dari minyak makan biasa, harga minyak makan merah bisa ditekan menjadi lebih murah. Sebagai gambaran, jika tak ada perubahan, minyak makan merah rencananya akan dijual Rp9 ribu per liter, lebih murah dibanding Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng curah yang mencapai Rp14 ribu per liter.

“Minyak makan merah ini lebih sehat dan punya banyak manfaat. Dengan beroperasinya pabrik ini, diharapkan dapat memecahkan permasalahan pasokan minyak goreng, menghadirkan minyak goreng yang terjangkau bagi rakyat, serta memberikan nilai tambah bagi petani sawit,” kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Jumat (6/1/2023).

Erick memastikan siap memfasilitasi proyek rintisan produksi minyak makan merah sebagai alternatif pengganti minyak goreng sawit yang dikonsumsi masyarakat saat ini. Hal itu ditegaskan Erick Thohir saat meninjau perkembangan pembangunan pabrik minyak makan merah yang tengah digarap oleh PTPN Group di Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat.

“BUMN siap memfasilitasi proyek rintisan produksi, dan hendaknya didukung oleh percepatan dalam soal lisensi edar dan keamanan konsumsi,” kata Erick, yang didampingi Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani.

Sumber: Republika.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.