“Biasanya mereka akan menggunakan kaca pembesar untuk memeriksa satu per satu bagian gitar. Bahkan, sampai ke bagian dalam gitar. Kalau ada salah sedikit, mereka enggak akan mau,” kisahnya.

Karenanya, PT Genta Trikarya, tempat Alif bekerja, sangat memperhatikan kualitas gitar buatannya. Para karyawan pun diharuskan untuk sangat berhati-hati dan teliti dalam pengerjaan gitar dan ukulele yang mereka produksi.

Pangsa ekspor

Gitar, baik akustik maupun listrik serta ukulele yang dibuat Genta memang lebih banyak dipasarkan di luar negeri ketimbang di dalam negeri. Direktur PT Genta Trikarya Agung Nasution mengungkapkan, porsi penjualan Genta memang mayoritas diperuntukkan ekspor. Porsinya kini mencapai 95% dari total produksi, yang dalam setahun mencapai 8.000 gitar dan ukulele. Barulah 5% sisanya untuk dipasarkan di dalam negeri.

“Dulu, tahun 1991 masih melayani (penjualan-red) dalam negeri. Tapi ketika 1998, saat krisis moneter melanda, sangat sulit untuk memasarkan di dalam negeri. Makanya kita cari peluang di luar negeri, untuk ekspor,” kisahnya, saat Alinea.id bertandang ke pabrik Genta yang terletak di Jalan A.H. Nasution, Palasari, Bandung, Rabu (10/8) sore.

Selain karena peluang penjualan di luar negeri lebih besar, keputusan untuk ekspor dirasa Agung lebih menguntungkan. Sebab, kala itu ada selisih yang jauh antara nilai tukar rupiah dengan dolar.

“Sejak saat itu, penjualan dalam negeri jauh berkurang. Kita lebih senang ekspor,” lanjutnya.

Di industri alat musik, nama Genta Trikarya atau lebih dikenal dengan Genta Guitars memang sudah tidak asing lagi. Selain gitar merek Genta, perusahaan manufaktur yang telah berdiri sejak 1959 ini juga mengekspor gitar dengan jenama lain, atau yang sering disebut dengan maklon – kegiatan memproduksi barang untuk pihak lain.

Beberapa jenama asal luar negeri yang diproduksi Genta antara lain, Faith, Olympia, Pono, Timberline, Tribute, dan Homestaid. Sebelumnya, usaha dengan skala menengah ini juga pernah memproduksi gitar Yamaha. Meski tak banyak, Genta juga menerima pesanan gitar custom alias gitar yang dibuat khusus berdasarkan permintaan si pembeli.

“Untuk sekali ekspor, jumlahnya beragam. Bisa satu kontainer 300 pcs (gitar-red). Kita juga melayani pembelian tidak full container. Misal hanya beberapa buah gitar custom, atau gitar biasa dengan jumlah paling setengah container,” jelas Agung.

Agung mengakui, menjual gitar dengan merek sendiri bukanlah perkara mudah. Ketatnya persyaratan terkait kualitas gitar yang diminta oleh pembeli dari luar negeri, sering kali membuat produsen-produsen gitar dalam negeri kesulitan.

Padahal, banyak produsen gitar, baik UMKM maupun IKM yang masih berproduksi dengan mengandalkan tenaga manusia dengan memproduksi gitar ‘handmade’. Tak jarang ditemui kesalahan kecil pada gitar.

Belum lagi, agar mereknya dikenal di luar negeri, Agung harus berpromosi. Salah satunya dengan mengikuti berbagai pameran alat musik dunia. Namun, untuk berpartisipasi dalam pameran, pihaknya harus merogoh kocek cukup dalam.

“Untuk stand kecil dan sederhana yang ukurannya 3 x 3 meter, kita setidaknya butuh Rp200 juta. Untuk sewa stand, tiket pesawat dan penginapan. Cost ini sulit untuk kami, apalagi buat produsen gitar kecil,” keluhnya.

Panggung internasional

Namun jika cukup beruntung, produsen gitar bisa muncul di ‘panggung’ internasional berkat uluran tangan pemerintah. Jenama Genta adalah salah satu produsen yang dua kali mampir di pameran internasional. Genta digandeng ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) pada 2011 silam dan Juni 2022 kemarin.

“Tapi itu enggak cukup. Biar merek kecil kita dikenal dunia, kita harus lakukan promosi terus. Ini yang sulit kita lakukan,” kata Agung.

Sampai saat ini Genta juga masih sulit memasarkan gitar custom di luar negeri. Sebab, selain hal yang telah disebutkan sebelumnya, untuk memproduksi gitar custom membutuhkan waktu, tenaga, hingga biaya lebih banyak dari produksi gitar masal.

Agung mencontohkan, jika untuk produksi gitar biasa hanya dibutuhkan waktu 10 hari, produksi gitar custom membutuhkan waktu dua kali lebih lama. Ihwal biaya, produksi gitar custom cenderung lebih mahal karena ada alat khusus untuk membuat gitar berdasarkan pesanan ini. Belum lagi, dibutuhkan ketelitian lebih besar pula untuk membuat sebuah gitar custom.

Untuk sebuah gitar custom, Agung mematok US$100 lebih tinggi. Sehingga, jika gitar biasa dijual dengan harga pabrik sebesar US$300, harga jual gitar custom itu senilai US$400 per buah.

Selain harga yang lebih mahal, laki-laki yang telah bekerja di Pabrik Genta sejak 1988 ini juga lebih selektif dalam menerima pesanan gitar custom. Katanya, Genta hanya menerima pesanan dari pelanggan lama saja. 

“Kalau buyer biasa dan baru, biasanya kita tidak terima. Karena kan mereka tidak pesan rutin,” jelas Agung.

Satu model makin mahal

Berbeda dengan Genta, Batiksoul Guitars justru tidak memproduksi gitar secara masal. Setiap satu model gitar, hanya dibuat satu unit dan memiliki sertifikat. Harga gitar butik yang dikenal dengan motif batiknya ini dibanderol dengan harga US$2.500 sampai US$5.000 atau senilai Rp35 juta – Rp70 juta untuk seri eksklusif. Sedangkan untuk seri premium gitar akustik dijual dengan harga US$1.200-US$1.600, premium gitar di rentang US$750-US$1.000, dan premium ukulele sekitar US$650- US$850.

Pendiri Batiksoul Guitars Guruh Sabdo Nugroho mengatakan, harga gitar yang dibuatnya cenderung mahal karena dibuat dengan tangan. Gitar ini menggabungkan teknik tradisional dan teknik standar luthier atau pembuatan gitar dunia. Sementara motif batik pada badan gitar dibuat dengan menggunakan teknik batik tradisional, dengan menggunakan pewarna alami.

“Buat bikin batik di gitar ini enggak mudah. Untuk riset dan ngembanginnya saja butuh waktu sampai 2 tahun. Dan kami membatiknya benar-benar dengan batik tulis dengan pewarna alam,” katanya, kepada Alinea.id, Jumat (26/8).

Guruh melanjutkan, gitar buatannya juga lebih banyak dipasarkan di luar negeri. Sedangkan penjualan di dalam negeri justru merosot selama pandemi Covid-19. Sampai saat ini, gitar Batiksoul sudah mampu merambah lebih dari 20 negara di dunia, beberapa di antaranya Singapura, Malaysia, Thailand, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Italia, hingga Belanda.

Meski pemasaran gitar Batiksoul sudah tergolong luas, namun produsen gitar yang berada di Banaran, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini mengaku masih banyak tantangan yang harus dihadapinya. Apalagi, usaha yang ditekuninya termasuk dalam kategori segmentasi khusus.

“Sekarang juga semakin banyak produsen gitar lokal yang kualitasnya sudah standar dunia,” imbuh laki-laki yang karib disapa Guge Nugroho ini.

Karenanya, untuk bersaing dengan pemain lokal dan juga dunia, Batiksoul harus terus berinovasi dalam segi model agar tidak menimbulkan kebosanan bagi pembeli yang banyak berasal dari kalangan kolektor gitar. Di saat yang sama, Guruh juga harus mempertahankan kualitas dari gitar buatannya. 

“Sejak awal berdiri, Batiksoul sudah berjualan secara online baik melalui e-commerce ataupun website. E-commerce yang digunakan juga khusus buat para kolektor dan musisi,” jelasnya.

Selain itu, untuk memperluas pasar, Guruh juga menggandeng musisi-musisi dari luar negeri. Dia bilang, musisi yang diajaknya bekerja sama itulah yang nantinya akan mencarikan pembeli di negara tempat mereka tinggal.

Teknik penjualan ini, lanjutnya, lebih mudah menggaet pembeli ketimbang harus menggunakan authorized dealer atau dealer resmi. Guruh juga mengeluhkan mahalnya biaya untuk mengikuti pameran di luar negeri. 

“Buat ikut pameran itu mahal sekali (biayanya-red). Pemerintah cuma bayar booth-nya saja, sedangkan biaya lainnya dari kita semua,” keluhnya.

Hal ini pun diakui Direktur Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Yuana Rochma Astuti. Dia bilang, saat mengikuti pameran di luar negeri Kemenparekraf dan ITPC Kementerian Perdagangan biasanya hanya memfasilitasi lahan atau dalam hal ini ketersediaan booth atau stand saja. Sedangkan biaya tiket serta akomodasi ditanggung oleh peserta pameran.

Tidak hanya itu, bagi pemerintah, sampai saat ini mengantarkan jenama gitar lokal ke pasar dunia juga masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa diselesaikan. “Yang bisa ikut adalah mereka yang sudah bisa produksi massal. Kira-kira satu container per bulan atau sekitar 200 atau 300 pcs,” katanya, saat dihubungi Alinea.id, Jumat (2/9).

Sementara itu, untuk lebih mengenalkan gitar Indonesia di mata dunia, Kemenparekraf bersama ITPC hanya bisa membuat dua stand dalam sebuah pameran. Satu stand untuk merek produsen tersebut dan satu lagi untuk gitar maklon.

“Dengan upaya ini, kami berharap supaya gitar lokal bisa semakin dikenal dengan namanya sendiri, bukan di bawah merek lain,” imbuhnya.

Hal ini sangat disayangkan, karena sebenarnya kualitas gitar Indonesia tidak kalah dengan buatan pengrajin gitar dunia, bahkan beberapa produsen dapat memproduksi gitar dengan kualitas gitar lebih baik. Namun, karena jenama yang dibawanya tak populer, harga jual gitar jauh lebih rendah dari merek-merek gitar yang telah mendunia.

“Padahal banyak juga merek luar negeri itu yang dibuatnya di Indonesia. Tapi harga jualnya beda banget. Bisa 2-3 kali lipat lebih murah kalau merek asli Indonesia,” kata Luthier asal Yogyakarta Noor Rahmat Wibowo, kepada Alinea.id, belum lama ini.

Foto Pixabay.com.

Untuk bisa mentereng di mata dunia, kata pemilik NRW Guitars ini, satu-satunya cara adalah melakukan promosi lebih banyak lagi di luar negeri. Namun, hal ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh produsen, apalagi yang skala usahanya masih UMKM. Biaya untuk berpromosi di luar negeri terlampau mahal.

“Makanya pemerintah harus bantu,” imbuhnya.

Dalam kesempatan lain, Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Kementerian Perdagangan (Kemendag) Marolop Nainggolan menjelaskan, untuk membawa jenama gitar lokal lebih berjaya di dunia, pemerintah melalui Kemendag telah membantu promosi melalui berbagai saluran. Salah satunya adalah dengan InaExport.id. Sebuah platform business to business (B2B) yang dibina oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kemendag dan ITPC.

“Pihak kami juga menyediakan layanan Business Matching bagi perusahaan yang sudah memenuhi kapasitas ekspor,” katanya, kepada Alinea.id, Kamis (1/9).

Selain itu diberikan pula kesempatan untuk memajang produk di Permanent Trade Exhibition di gedung Kementerian Perdagangan. Di mana secara reguler akan dikunjungi oleh buyers atau pembeli dan perwakilan negara asing. Semua layanan tersebut diberikan tanpa dipungut biaya apapun.

“Setiap produsen yang memerlukan bantuan promosi silakan menghubungi melalui e-mail [email protected], [email protected], [email protected],” ujar Marolop.

Menurutnya, sejauh ini tidak banyak masalah untuk ekspor, seperti tidak ada pembatasan, peraturan khusus, hingga tidak ada pungutan bea keluar. Seperti yang telah diketahui, melalui Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu), pemerintah telah memberikan insentif fiskal bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang berorientasi ekspor.

Insentif ini diberikan dalam bentuk fasilitas KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor) IKM. Perusahaan penerima fasilitas KITE IKM mendapatkan fasilitas pembebasan dari kewajiban membayar bea masuk, pajak pertambahan nilai (PPN), maupun pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM). 

Selain itu proses impor dan ekspornya juga diberikan kemudahan-kemudahan lain seperti prosedur impor yang sederhana, pemeriksaan fisik secara selektif, penangguhan ketentuan pembatasan impor, serta kemudahan proses impor dengan disediakan aplikasi khusus.

Direktur Fasilitas Kepabeanan dan Cukai DJBC Kemenkeu Untung Basuki mengungkapkan, hingga 31 Juli 2022 sebanyak 120 unit usaha telah menerima fasilitas ini. “Ke depan, tidak hanya IKM yang akan diberi fasilitas KITE ini, tapi juga UMKM. Ini bisa dilakukan karena ada Undang-Undang Cipta Kerja,” jelasnya, kepada Alinea.id, Rabu (10/8). 

Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
 


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.