“Kehidupan itu seperti suatu permainan. Bukan soal berapa lamanya hidup, melainkan soal kehebatan akting masing-masing orang.” ― Lucius Annaeus Seneca.

Ilustrasi. (ummi-online)

Beberapa kasus yang membelit orang-orang (tepatnya para pejabat, atau mantan pejabat, negeri ini) dan menyeret mereka ke proses peradilan, diwarnai “kelucuan’”perilaku mereka. Yang sebelumnya sehat walafiat, begitu mulai ada suara ke proses peradilan, mereka tampil sakit, tampil sebagai orang yang terserang masalah kesehatan. 

Gaya sakit belakangan yang lagi ngetren adalah gaya penyangga leher (saya geli, sambil berpikiran iseng, leher ditutup ini karena cupang, maaf, atau karena habis kerokan?) 

Kasus-kasus itu termasuk contoh akting yang ekstrem. Karena, dalam keseharian kehidupan kita, akting adalah perilaku kebiasaan (habits) sebagian besar orang. 

Ada seorang lelaki berkeluarga, nampak baik, setia, dan sayang kepada anak-istrinya. Namun, ternyata kemudian, ia ketahuan memiliki seorang istri lain yang ia nikahi secara siri (ia memiliki genset, selain PLN yang di rumah). Aktingnya sebagai suami dan ayah yang baik sangat meyakinkan. 

`Secara lebih luas dan mengundang perhatian publik adalah ulah para politisi yang sangat pandai memainkan gaya akting Dasamuka (seribu wajah). Mereka pandai memainkan akting, sesuai dengan kebutuhan syahwat kuasa mereka. 

Rentetan kejadian fenomenal dan amat-sangat memalukan adalah ketika sebuah partai politik dengan menggebu mengajak masyarakat, “Katakan tidak pada korupsi!” Dan kita tahu kejadian-kejadian berikutnya, para orator antikorupsi itu satu per satu menjadi pesakitan, penghuni penjara. Kasus mereka: korupsi ! 

Dunia ini panggung sandiwara, sepenggal lirik lagu ciptaan Taufiq Ismail dan Ian Antono (God Bless), adalah realitas kehidupan 8 miliar umat manusia di bumi. Realitas, dalam pengertian hampir setiap orang pernah bersandiwara dalam melakoni perannya sebagai makhluk sosial. Berpura-pura marah kepada anak buah yang berbuat salah. Bermanis muka terhadap atasan. Berwajah memelas pada saat mengajukan pinjaman uang. 

Itu semua karena setiap orang memiliki kebutuhan, bahkan keinginan, dalam rupa-rupa hal. Dan, dalam proses pencapaian keinginan itu, bermain sandiwara memang hampir tak mungkin dielakkan. Suatu hal yang sejatinya manusiawi. 

Karena, kata Dale Carnegie, “Ingatlah, saat kita berhubungan dengan orang lain, kita berhadapan dengan makhluk emosi, bukan makhluk logika.” Sandiwara, dengan berpura-pura, menggunakan “topeng” tertentu, acap menjadi alat efektif untuk mendapatkan simpati dan empati dari makhluk emosi yang dihadapi.

Halaman Selanjutnya

Dalam konteks kehidupan kita di…


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.