Merasa resah diteror oknum wartawan, Pengurus Cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PC PGRI) Karang Jaya Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menggelar pelatihan jurnalistik tingkat dasar pada Kamis (17/11).

Kegiatan pelatihan ini dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Karang Jaya, Sekretaris Camat, Ketua PGRI Karang Jaya, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Karang Jaya. Penilik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, dan para peserta yang terdiri dari guru dan kepala sekolah di wilayah Kecamatan Karang Jaya.

Selain menambah wawasan jurnalistik, kegiatan ini timbul dari kegelisahan para pendidik yang terlalu sering didatangi oleh para oknum wartawan yang disinyalir melakukan modus pemerasan dengan mencari-cari kesalahan sekolah.

Pelatihan ini menghadirkan jurnalis dari KompasTV dan NetTV sebagai narasumber.

“Dia (oknum wartawan) tiba-tiba masuk nyelonong ke sekolah, masuk ruangan guru, kemudian memeriksa absensi. Dengan dasar apa? Itu sudah salah prosedur. Jadi, Ibu-Bapak, tolong ingatkan. Kalau mereka membuka absensi dan sebagainya, itu wajib ditolak, dan itu bukan hak dia. Apa kaitannya mereka berani-beraninya membuka absensi? Bagaimana langkah-langkah preventif mencegah hal-hal negatif supaya mereka kapok? Kuncinya, tenang. Kedua, ketika mereka minta apapun, jangan dikasih,” kata narsum dari KompasTV.

Ketua panitia, Yadi Haryo Sonjaya, berharap dengan kegiatan ini para guru bisa lebih paham tentang tugas pokok dan fungsi seorang wartawan sehingga mereka bisa membedakan antara wartawan dan oknum wartawan.

“Latar belakang dari kegiatan pelatihan ini adalah. Pertama, keluhan dari kepala sekolah baik dari TK, SD, SMP, yang berada di wilayah Kecamatan Karang Jaya, yang mengeluhkan kepada kami, Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Karang Jaya, bahwa banyak sekali media yang datang ke sekolah, yang meresahkan. Sehingga menjadikan kondusivitas berkurang di sekolah, yang mana banyak dari mereka terkadang jurnalistik-jurnalistik atau pers-pers yang abal-abal atau tidak resmi,” kata Yadi.

“Dengan pelatihan jurnalistik ini, diharapkan kami kepala sekolah dan guru-guru di sekolah bisa membedakan mana yang sebenarnya wartawan dan mana yang abal-abal, sehingga kami bisa menghadapi mereka dengan baik dan kondusivitas di sekolah menjadi lebih baik lagi.” tambahnya, mengutip Tasik TV, Jumat (18/11).

Camat Karang Jaya, Kadir, mengatakan dengan pelatihan ini para guru bisa paham tentang jurnalistik. Karena selama ini mereka salah paham dalam mengartikan profesi jurnalis.

“Alhamdulillah dengan adanya kegiatan pelatihan jurnalistik tingkat dasar ini mungkin akan memberikan pemahaman terhadap guru-guru di wilayah Kecamatan Karang Jaya ini pengertian tentang jurnalistik ini karena selama ini ada kesalahpahaman di antara di dunia pendidikan terhadap jurnalistik. Selama ini kami selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak kepala sekolah terkait pembinaan terhadap para guru untuk menghadapi para jurnalis yang terjadi selama ini,” ujar Kadir.

“Namun, ada keluh-kesah juga dari para guru karena di wilayah Kecamatan Karang Jaya ini banyak jurnalis yang sifatnya tidak resmi. Dengan adanya pelatihan ini, mungkin memotivasi terhadap para guru juga, sehingga pemahaman dan pengertian tentang jurnalistik dapat dimengerti atau diserap kepala sekolah dan guru,” sambungnya.

Kepala MKKS Karang Jaya Iji Setiaji berharap kegiatan pelatihan ini menjadi solusi agar pihaknya bisa secara total menyelenggarakan pelayanan pendidikan khususnya di wilayah Kecamatan Karang Jaya.

“Kegiatan ini luar biasa, yang memang ini dirancang kerja sama antara lembaga pendidikan yang ada di Karang Jaya. Ini kegiatan yang luar biasa. Semoga ini bisa menjadi sebuah solusi untuk hal yang stagnan dalam hal kondusivitas di lembaga pendidikan khususnya di Kecamatan Karang Jaya, sehingga kami bisa begitu total untuk mengurusi tentang pelayanan pendidikan khususnya di Kecamatan Karang Jaya,” kata Iji.            

Ketua K3S Lilis Ai Mulyani mengatakan, dengan pelatihan bisa menambah wawasan, juga bisa menghadapi dan menyikapi media-media yang datang ke sekolah.

“Dari pelatihan jurnalistik ini diharapkan kami semua peserta terutama kepala sekolah yang sering menghadapi media-media dari berbagai macam media, setelah pelatihan jurnalistik ini bisa menambah wawasan bagaimana menghadapi dan menyikapi para media-media yang masuk ke kami,” kata Lilis.

Salah satu peserta, Sri Andriyati, mengatakan setelah mendengarkan pemaparan materi mendapatkan pencerahan dan dapat membedakan antara wartawan dan oknum wartawan.

“Alhamdulillah, setelah kita mendengarkan dari pemateri, yang mungkin tadinya kita itu mengalami sedikit kesulitan apabila ada wartawan atau dari media yang datang ke sekolah,” kata Sri.
 
“Setelah mendengar tadi penjelasan dari Pak Budi, kita ada pencerahan sekarang. Jadi, minimal kita itu sekarang tahu perbedaan wartawan yang benar, yang wartawan betulan, dengan yang abal-abal, yang tadi dibilang uka-uka itu. Jadi, minimal kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan apabila ada yang datang ke sekolah seperti itu. Ada pencerahanlah kita, begitu,” pungkasnya.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.