Dengan menggunakan nama akun Instagram ‘crossfitpriest,’ pendeta rumah sakit Swedia Oskar Arngarden berbagi nasihat kebugaran dan spiritual kepada lebih dari 30.000 followersnya, untuk membantu memulihkan kondisi jiwa, raga dan pikiran mereka.

“Saya merasa Tuhan ada dalam setiap aspek kehidupan saya. Jadi ketika saya berolahraga pun itu merupakan suatu bentuk interaksi hubungan, ibadah kepada-Nya, demikian juga ketika saya bertemu dengan orang-orang di rumah sakit, di mana saya bekerja. Itu juga suatu bentuk hubungan dan pertemuan dengan Tuhan,” kata Oskar yang berusia 38 tahun.

Ia lantas mengeluarkan telepon genggamnya di pusat kebugaran, di seberang Rumah Sakit Universitas Uppsala, di mana ia dikenal sebagai pendeta Gereja Lutheran Swedia. Pria berotot yang juga ayah dua anak itu menunjukkan video-video Instagramnya ketika sedang mengangkat beban dan berolahraga.

Oskar Arngarden, seorang pendeta Gereja Lutheran Swedia berusia 38 tahun, di Rumah Sakit Universitas Uppsala pada 30 Desember 2022, di Uppsala, Swedia. (Foto: AFP/Jonathan NACKSTRAND)

“Dalam Alkitab, disebutkan bahwa tubuhmu adalah kuilmu. Lalu saya berpikir, OK, bagaimana seharusnya saya memperlakukan kuil saya? Karena kita hidup hanya sekali. Bagaimana caranya agar saya memperlakukan tubuh saya sebaik mungkin?” katanya.

Meskipun dampak negatif media sosial sudah banyak dibuktikan, Arngarden mengatakan bahwa media sosial juga bisa menjadi tempat yang baik untuk membicarakan tentang “iman dan kesehatan, dan… tentang keberadaan kita, kesehatan mental kita.”

Akunnya juga menampilkan unggahan-unggahan berisi refleksi keagamaan dan kebiasaan hidup sehat.

Pendeta muda itu mulai aktif di Instagram pada tahun 2019.

Ia kemudian menjadi sebuah sensasi sampai-sampai ia merasa kewalahan.

“Situasinya jadi sedikit tidak terkendali… Dalam beberapa bulan saya mengumpulkan 160.000 followers, sementara saya termasuk orang yang sangat pemalu sehingga rasanya sungguh tidak nyaman.”

Banyak warganet yang mengomentari tubuhnya yang atletis, banyaknya tato yang ia miliki hingga kemiripannya dengan aktor Australia Chris Hemsworth.

Pada saat yang sama, ia mengalami depresi. Dan, pada akhirnya, ia menutup akun Instagramnya itu.

Oskar Arngarden, seorang pendeta Gereja Lutheran Swedia berusia 38 tahun, menelusuri video yang diposting di akun Instagramnya pada 30 Desember 2022, di Uppsala, Swedia. (Foto: AFP/Jonathan NACKSTRAND)

‘Sesuatu yang Terasa Spiritual dalam Media Sosial’

Tahun 2020 ia kembali ke Instagram, kali ini dengan gagasan yang jelas akan apa yang ingin ia sampaikan di platform itu, khususnya kepada pengikutnya di Swedia, salah satu negara paling sekuler di dunia.

“Dalam beberapa hal kita tertahan oleh sejarah, di mana Anda memandang gereja menjadi pusat (keagamaan) dan orang-oranglah yang datang ke sana. Sekarang kita harus menemukan cara untuk membawa gereja kepada orang-orang, untuk menemui mereka, dan di manakah mereka berada? Mereka ada di media sosial. Makanya kita harus ada di media sosial, dan kita bisa menguasainya dengan lebih baik lagi,” ujar Oskar.

Baginya, ada “sesuatu yang terasa spiritual di media sosial” dan bagaimana platform itu memungkinkan para penggunanya untuk “berinteraksi dengan seluruh dunia.”

Teknologi modern memberinya platform unik untuk menjangkau orang lain, ungkap Oskar, untuk menunjukkan bagaimana iman dan rutinitas olah raganya saling terikat dengan erat.

“Iman saya selalu bersama saya dalam semua hal yang saya lakukan,” ungkapnya.

Oskar Arngarden, seorang pendeta Gereja Lutheran Swedia berusia 38 tahun, di kapel Rumah Sakit Universitas Uppsala pada 30 Desember 2022, di Uppsala, Swedia. (Foto: AFP/Jonathan NACKSTRAND)

Oskar Arngarden, seorang pendeta Gereja Lutheran Swedia berusia 38 tahun, di kapel Rumah Sakit Universitas Uppsala pada 30 Desember 2022, di Uppsala, Swedia. (Foto: AFP/Jonathan NACKSTRAND)

Beberapa pengikut Oskar Arngarden menghubunginya secara langsung melalui media sosial dan “obrolan yang lebih mendalam”-lah yang membuatnya paling tertarik.

Beberapa followers menceritakan pengalaman hidup dan spiritualitas mereka.

“Saya menginginkan interkasi seperti itu dengan orang lain, untuk mendengarkan riwayat dan kisah mereka,” ujarnya.

“Merupakan berkah bagi saya hanya dengan mendengarkan itu semua.” [rd/lt]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.