Merdeka.com – Umumnya kekuatan jembatan dapat diketahui teknisi melalui inspeksi visual yang memakan proses lama. Selain itu, sensor pendeteksi getaran pengukur frekuensi modal juga dipakai untuk mengetahui kekuatan jembatan.

Melalui alat itu, teknisi jembatan dapat mengetahui karakteristik fisik dan mengukur kelayakan jembatan. Namun teknisi jembatan biasanya harus mengeluarkan uang banyak menggunakan alat pendeteksi getaran.

Karena itu, Thomas Matarazzo dari Akademi Militer West Point New York, Amerika Serikat (AS) bersama timnya mengembangkan sistem pengukur frekuensi modal jembatan untuk mengetahui kelayakan jembatan menggunakan data-data dari berbagai ponsel.

Untuk mengukur kelayakan jembatan, Matarazzo beserta timnya mengumpulkan data-data dari pengguna ponsel yang sering melewati jembatan.

Data-data itu diambil informasi lokasi GPS dari akselerometer ponsel. Melalui data ini, gerakan kecil apa pun yang dilakukan ponsel dapat terekam. Demikian dikutip dari New Scientist, Jumat (4/11).

Tim peneliti membagi penelitian ke dalam tiga bagian. Pertama tim peneliti menempatkan dua iPhone pada mobil yang melewati Jembatan Golden Gate Bridge di San Fransisco, AS selama 100 kali. Kedua tim peneliti mengambil data dari pengemudi Uber yang melewati Jembatan Golden Gate Bridge selama 70 kali. Ketiga tim peneliti mengambil data dari ponsel Android yang telah melewati Jembatan Cimpino, Italia selama 250 kali.

Semua data-data yang dikumpulkan memiliki perbedaan, dari percobaan melewati Jembatan Golden Gate Bridge 100 kali secara teratur dan pengemudi Uber yang 70 kali melewati jembatan itu tidak teratur.

Matarazzo dan timnya menyatakan kalau mereka dapat mengukur modal frekuensi jembatan hingga tiga persen lebih tepat daripada pembacaan yang dilakukan sensor statis yang sangat akurat.

“Kami tidak perlu membeli sensor tambahan atau khusus untuk dapat mengumpulkan data yang kami perlukan dalam skala besar. Ini benar-benar monumental, karena itu berarti Anda dapat menggunakan data yang sudah ada dan berbiaya rendah untuk memperkirakan sifat dinamis yang penting,” jelas Matarazzo.

Namun beberapa data-data yang dikumpulkan harus diperiksa manusia secara langsung. Matarazzo menjelaskan pengecekan jembatan melalui metode ini hanya membutuhkan beberapa orang saja.

Bagi tim peneliti, metode yang mereka temukan dapat menambah lebih dari dua tahun masa layanan jembatan tua dan hampir 15 tahun masa layanan jembatan baru.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan

Baca juga:
Ilmuwan Belanda Rancang Robot Elang untuk Cegah Burung Tabrak Pesawat
Singa Betina Berusia 18 Tahun di AS Bisa Tumbuhkan Surai
Naik Balon Udara Sampai ke Stratosfer, Wisatawan Perlu Rogoh Rp1,9 Miliar
Penyebab Punahnya Manusia Neanderthal Bukan karena Perang Tapi Kurang Seks
Ilmuwan Temukan Jejak Kaki Kura-Kura Paling Utuh Terawat Berusia 100 Juta Tahun


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.