Komisis khusus di Australia yang menyelidiki dugaan tindak kejahatan kebencian yang belum terpecahkan, yang menyangkut kematian beberapa orang dari kelompok LGBTQI antara tahun 1970 hingga 2010, menyelenggarakan sidang dengar pendapat hari Senin (21/11). Penyelidikan di negara bagian New South Wales itu diyakini merupakan yang pertama kalinya dilakukan di dunia. Penyelidikan itu dimulai sejak April sesuai rekomendasi sebuah komisi di parlemen.

Para aktivis hak-hak gay mengatakan bahwa pada tahun 1980-an kekerasan terhadap orang-orang LGBTQI di kota Sydney, Australia, “hampir dianggap seperti olahraga.” Homofobia juga merajalela pada awal epidemi HIV.

Para korban diyakini dibuang ke jurang atau dipukuli sampai mati di taman-taman. Banyak kasus dugaan pembunuhan yang tidak tuntas diselesaikan. Pada 2021, sebuah komisi berisi para anggota parlemen mengatakan, polisi di New South Wales telah gagal menyelidiki kasus-kasus dugaan kejahatan kebencian terhadap gay dan transgender.

Komisi penyelidikan khusus itu pada hari Senin (21/11) mulai mengumpulkan barang bukti di hadapan publik dalam upaya untuk menutup apa yang disebut pejabat pemerintah negara bagian sebagai “bab kelam” sejarah Australia.

Komisi itu akan memeriksa penyebab kematian para korban dalam semua kasus dugaan kejahatan kebencian yang belum terpecahkan di New South Wales pada rentang 1970 hingga 2010, di mana korban merupakan anggota komunitas LGBTQI dan kematiannya sempat diselidiki kepolisian.

Para aktivis mengatakan ada sekitar 20-30 kasus yang belum terpecahkan.

Para aktivis LGBT melakukan unjuk rasa untuk merayakan diakuinya pernikahan sesama jenis dalam parade di Sydney, 3 Maret 2019 (foto: dok).

Sementara itu, pada 2010, Australia telah mengamandemen lebih dari 70 undang-undang untuk menghapus diskriminasi antara pasangan lesbian dan gay.

Nicholas Stewart, wakil presiden Pengacara Hak Asasi Manusia Australia, mengatakan kepada Australian Broadcasting Corp bahwa kekejaman masa lalu harus diungkap.

“Komunitas [LGBTQI] berhak mendapatkan kebenaran dan keadilan. Ada begitu banyak keluarga dan kerabat yang tersakiti, demikian juga para korban kejahatan kebencian yang masih hidup, yang sangat ingin pemerintah mengakui apa yang telah mereka alami,” ujar Stewart.

Sementara itu, vonis bersalah yang dijatuhkan kepada seorang pria atas pembunuhan terhadap seorang pria gay AS telah dibatalkan pekan lalu, setelah hakim menerima permohonannya untuk dapat menarik pengakuan bersalahnya.

Jasad Scott Johnson, 27 tahun, seorang ahli matematika asal Amerika yang berkuliah di Universitas Nasional Australia, ditemukan di dasar jurang di Sydney tahun 1988. Kerabatnya selama bertahun-tahun mengatakan bahwa kasus kematiannya diakibatkan oleh tindak kejahatan kebencian.

Scott Phillip White, 51 tahun, yang dijatuhi hukuman penjara lebih dari 12 tahun Mei lalu, diperkirakan akan menghadapi persidangan ulang atas dugaan pembunuhan tersebut.

Pernikahan sesama jenis telah disahkan Australia sejak Desember 2017.

Komisi Penyelidikan Khusus Terhadap Kasus Kejahatan Kebencian LGBTQI New South Wales akan melaporkan temuan mereka pada akhir Juni 2023. Para aktivis menyerukan penyelidikan nasional terhadap kasus dugaan kejahatan kebencian lain yang terjadi di wilayah lainnya di Australia. [rd/em]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.