Munisi pintar berbasis drone produksi PT Republik Defence Indonesia

Perusahaan lokal PT Republik Defence (anggota dari Republikorp) merilis seri senjata pesawat tanpa awak yang di beri nama Brama Series (yang artinya lebah dalam Sansekerta) dan Konta (berasal dari nama senjata yang digunakan oleh Gatot Kaca). Munisi pintar yang berbasiskan drone ini dapat diluncurkan oleh tabung gas dan digendong oleh seorang prajurit saja, serta memiliki berat kurang dari 20 kilogram. Senjata nirawak ini dapat terbang selama 30 menit dengan jarak jelajah 10 kilometer, dan memiliki daya ledak TNT hingga 2 kilogram.

Pada pameran Indo Defence Expo and Forum 2022, Republik Defence memperkenalkan enam jenis pesawat nirawak yang bersenjata seperti Konta 10/30/50. Bramara Series HE, 5.56 mm dan logistik. Menurut Pendiri Republik Defence Norman Joesoef, inovasi ini didasarkan pada pembelajaran lapangan atas apa yang sedang terjadi di medan pertempuran Ukraina sekarang,

“Disrupsi teknologi yang terjadi adalah peluang ekspor buat kami yang bergiat di industri ini. Saat ini kami sedang mengembangkan smart loitering munition berkat hasil kerja sama dengan beberapa negara Eropa. Kami menerima kesempatan ini dengan profesionalitas tinggi dan dengan tangan terbuka. Ini adalah masa depan pertempuran,” ungkapnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Menhan RI Prabowo Subianto. Menurutnya, Indonesia saat ini harus mengerahkan taktik teknologi dan kemampuan kumpulan drone dalam jumlah besar. “Seperti drone kamikaze dengan sistem otonom dan robotik baik di udara, di laut maupun di darat,” tuturnya pada seminar nasional yang diadakan TNI AU bertajuk “Tantangan TNI AU dalam perkembangan Teknologi Elektronika Penerbangan”, pada tanggal 8,November 2022 di Halim Perdana Kusuma Jakarta.

Secara terpisah, Prabowo juga mengingatkan agar semua pihak harus waspada terhadap ancaman yang akan mendatangi Indonesia. Ia pun mencontohkan Singapura yang meski negara kecil namun sangat memperhatikan pertahanan negaranya, jika dilihat dari perbandingan anggaran belanja untuk keamanan.

“Karunia yang kita terima hendaknya kita manfaatkan untuk siap menghadapi ancaman yang akan datang. Kalau tidak terjadi (perang), alhamdulillah. Kalau terjadi, kita sudah siap. Jangan kalau kita mendapat kebaikan, keberuntungan, kita santai. Ini kita harus introspeksi,” imbuhnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.