Merdeka.com – Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang Ketua Taruna Merah Putih Maruarar Sirait menilai, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menjadi sosok pro pemberantasan korupsi. Salah satu contohnya adalah keberhasilan membongkar mega korupsi di PT Asabri dan Jiwasraya.

“Pak Erick Thohir Ini sangat pro dengan pemberantasan korupsi,” kata Maruarar Sirait dalam Seminar Nasional bertajuk Investasi Masa Depan Kepemimpinan Nasional di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Selasa (29/11).

Dia mengungkapkan, Erick Thohir memiliki peran besar dalam keberhasilan mengungkap mega skandal korupsi di PT Asabri dan Jiwasraya. Hal itu terlihat dari dukungan penuh yang diberikan Erick selama proses penyelidikan kasus tersebut.

Kala itu, lanjut dia, Erick menggandeng Kejaksaan Agung (Kejagung) RI. Dia melihat Erick Thohir memiliki semangat penuh untuk memberantas pihak bermasalah di perusahaan pelat merah.

“Ada case di Indonesia seperti Asabri dan Jiwasraya, Itu case sudah lama banget dan merugikan sudah triliunan sudah gede banget. Tapi Pak Erick Thohir secara sadar mempersilakan aparat kejaksaan untuk memeriksa menuntaskan,” ungkap Maruarar.

Lebih lanjut dia juga menyebut bahwa Erick Thohir merupakan sosok yang memegang teguh nilai-nilai integritas. Sehingga mampu membuat persoalan korupsi yang menggerogoti BUMN kini perlahan menghilang.

“Kalau menterinya punya kepentingan atau enggak bener pasti enggak berani. Tapi justru Pak erick bersama-sama memeriksanya itu membutuhkan suatu integritas yang enggak bener silakan tangkap saja anak buahnya,” jelas Maruarar.

Diketahui mega korupsi di PT Asuransi Jiwasraya dan PT Asabri begitu menjadi sorotan publik. Lantaran kasus korupsi tersebut menyebabkan kerugian negara hingga Rp 39,58 triliun.

Dalam kasus jiwasraya, total kerugian negara sebesar Rp16,8 triliun. Dikutip dari Antara, enam orang ditetapkan sebagai terpidana kasus korupsi dan pencucian uang.

“Ini merupakan tonggak sejarah baru dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia, dan membuktikan Kejaksaan Republik Indonesia sangat serius dan melaksanakan tahapan secara profesional,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung RI Leonard Eben Ezer Simanjuntak, 26 Agustus 2021. Dikutip dari Antara.

Enam terpidana yang Heru Hidayat (Komisari PT Trada Alam Minera) dan Benny Tjokcrosaputro (Komisatis PT Hanson Internasional) dijatuhi hukuman pidana seumur hidup, serta pidana tambahan berupa denda uang pengganti senilai Rp10,78 triliun (Heru) dan Rp6,078 triliun (Benny).

Sementara itu, terpidana direksi Jiwasraya, yakni Mantan Direktur Keuangan Hary Prasetyo, mantan Direktur Utama Hendrisman Rahim, dan mantan Direktur Maxima Integra Joko Hartono Tirto dijatuhi pidana penjaran selama 20 tahun. Sedangkan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan dihukum pidana penjara selama 18 tahun.

Keempat terpidana ini dijatuhi pula pidana denda senilai Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan.

Sementara dalam kasus Asabri, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat menjatuhkan vonis kepada mantan Direktur Investasi dan Keuangan PT Asabri periode 2013-2019 Hari Setianto serta Kepala Divisi Keuangan dan Investasi PT Asabri periode 2012-2015 Bachtiar Effendi.

Keduanya divonis 15 tahun penjara dalam kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi di PT Asabri.

Direktur Utama PT Asabri periode 2012-Maret 2016 Mayjen Purn Adam Rachmat Damiri dan Dirut PT Asabri periode Maret 2016-Juli 2020 Letjen Purn Sonny Widjaja juga divonis selama 20 tahun penjara.

[cob]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.