Warga Guinea Khatulistiwa hari Minggu (20/11) mendatangi TPS-TPS untuk memberikan suara. Namun tanpa kehadiran oposisi yang kuat, petahana Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo hampir dapat dipastikan akan kembali memenangkan pemilu dan berkuasa untuk masa jabatan keenam di negara yang terletak di Afrika Barat itu.

Obiang, yang berusia 80 tahun, telah berkuasa selama lebih dari 43 tahun; masa jabatan terlama dari seorang kepala negara mana pun yang masih hidup saat ini, kecuali raja.

Puluhan pemilih sudah antri ketika pintu TPS-TPS yang didirikan di sekolah-sekolah di distrik Semu Malabo dibuka Minggu pagi.

Seorang warga yang berprofesi sebagai tukang memperbaiki kulkas, Norberto Ondo, mengatakan kepada AFP, “pemungutan suara berjalan baik, semua normal, semua warga harus memilih.” Laki-laki berusia 53 tahun itu berharap “pemilihan ini akan membawa kemakmuran.”

Terpilihnya kembali Obiang di salah satu negara paling otoriter dan tertutup di dunia ini tampaknya hampir pasti.

Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo (kanan), menyerahkan surat suaranya kepada seorang pejabat komisi pemilihan untuk pemilihan presiden di Malabo, Minggu (20/11).

Lawannya, Andres Esono Ondo, usia 61 tahun, adalah tokoh dari satu-satunya partai oposisi yang ditolerir di negara itu. Sekjen Convergence for Social Democracy (CPDS) itu adalah kandidat pertama dan satu-satunya dari perwakilan oposisi yang diberangus. Ondo mengatakan ia takut terjadi “kecurangan” dalam pemungutan suara untuk memilih presiden, senator dan anggota parlemen.

Pemerintah telah melontarkan tuduhannya sendiri terhadap politisi tersebut. Pada tahun 2019, pemerintah menuduh Ondo telah merencanakan “kudeta di Guinea Khatulistiwa dengan dana asing.”

Kandidat ketika itu adalah Buenaventura Monsuy Asumu dari Partai Koalisi Sosial Demokrat, sekutu bersejarah partai penguasa Obiang. Mantan menteri ini mencalonkan diri untuk keempat kalinya, tetapi tidak pernah berhasil memenangkan pemilu-pemilu sebelumnya. Pihak oposisi menyebutnya sebagai “kandidat palsu.”

Penemuan minyak di lepas pantai negara itu menjadikan Guinea Khatulistiwa sebagai negara terkaya ketiga di benua Afrika, dalam arti tingkat pendapatan per kapita. Tetapi kekayaan itu tidak didistribusikan secara merata.

Menurut laporan Bank Dunia tahun 2006 – laporan terakhir yang tersedia – empat dari lima warga Guinea Khatulistiwa hidup di bawah garis kemiskinan. Total penduduk di negara itu adalah 1,4 juta jiwa.

Negara yang telah sejak lama dikenal karena korupsi ini berada di peringkat 172 dari 180 negara pada Indeks Persepsi Korupsi yang dikeluarkan Transparency International tahun 2021. [em/lt]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.