Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah menyatakan setidaknya dua orang tewas dalam insiden bentrokan antarkelompok pekerja di pabrik smelter PT Gunbuster Nickel Industri (GNI) di Morowali Utara, Sulawesi Tengah pada Sabtu (14/1) malam. Polisi masih menyelidiki pemicu kericuhan tersebut.

“Korban jiwa ada dua, satu dari TKA, satu dari TKI,” Kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah, Kombes Polisi Didik Supranoto dihubungi VOA pada Minggu (15/1) sore.

Berdasarkan informasi yang dihimpun VOA, bentrokan tersebut menyebabkan tiga blok tempat tinggal TKA dan 1 blok pengamanan obyek vital terbakar. Selain itu, delapan unit kendaraan juga turut terbakar.

Truk mengangkut bijih nikel mentah di dekat Sorowako, Sulawesi, 8 Januari 2014, sebagai ilustrasi. (Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad)

Didik mengatakan terkait dengan insiden tersebut, polisi telah mengamankan puluhan orang untuk dimintai keterangan di markas Kepolisian Resort Morowali Utara.

“Yang diamankan ada 69 orang, sekarang di Polres. Masih dalam proses pemeriksaan terkait dengan kejadian tadi malam,” ungkap Kombes Didik Supranoto.

Aparat sendiri telah mengerahkan ratusan personel dari TNI dan Polri untuk mengamankan lokasi kejadian. Dan kini, lokasi pabrik smelter PT GNI dinyatakan telah kondusif

Pemukulan Pekerja Lokal

Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) PT GNI Morowali Utara, Amirullah, menduga bentrokan itu dipicu oleh pemukulan terhadap enam pekerja lokal dalam aksi demonstrasi mogok kerja pada Sabtu (14/1) siang.

“Karena mungkin dia tidak terima bahwasanya teman-teman yang dipukul orang Indonesia, teman-teman kerjanya, sehingga dia balas,” kata Amirullah, saat dihubungi VOA secara terpisah.

Dalam aksi unjuk rasa mogok kerja itu, para buruh menyampaikan delapan tuntutan di antaranya penerapan prosedur Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3), pemberian alat pelindung diri (APD) kepada pekerja, penghentian pemotongan upah yang tidak jelas, serta mempekerjakan kembali anggota Serikat Pekerja Nasional (SPN) yang diberhentikan karena pernah melakukan mogok kerja.

Ekskavator terlihat di area penambangan bijih nikel di Desa Kolonedalle dekat Morowali, Sulawesi, 14 Januari 2014. (Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad)

Sementara itu, pihak PT GNI dalam siaran persnya menyatakan sangat prihatin atas peristiwa demonstrasi yang berakhir ricuh tersebut. Peristiwa tersebut akan berdampak tidak hanya bagi perusahaan, tteapi juga bagi masyarakat sekitar.

“Perusahaan bersama-sama dengan aparat penegak hukum langsung melakukan investigasi yang mendalam dan mengusut tuntas seluruh kejadian yang menimbulkan kerugian bagi semua pihak, baik kerugian materiel, material, hingga jatuhnya korban jiwa,” tulis PT GNI di website perusahaan itu, Minggu (15/1).

Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Pol Rudy Sufahriadi menyatakan polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab dari peristiwa tersebut.

Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Polisi Rudy Sufahriadi memberikan keterangan pers di Markas Kepolisian Resort Morowali Utara, Minggu (15/1/2023). (Foto: Courtesy/ Humas Polda Sulteng)

Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Polisi Rudy Sufahriadi memberikan keterangan pers di Markas Kepolisian Resort Morowali Utara, Minggu (15/1/2023). (Foto: Courtesy/ Humas Polda Sulteng)

“Ini akumulasi. Artinya mulai dari kecil tiba-tiba menjadi besar, sampai ada korban dua meninggal dunia. Kita sedang melakukan penyelidikan untuk mengungkap siapa yang meninggal dunia dari TKI, siapa yang meninggal dunia dari TKA, dan kenapa meninggal dunia,” kata Irjen Pol Rudy Sufahriadi di Mapolres Morowali Utara.

Ia menegaskan pihaknya telah melakukan peninjauan lokasi dan melakukan pertemuan dengan berbagai pihak termasuk PT GNI untuk memastikan peristiwa itu tidak akan berulang. [yl/ah]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.