Pada awal Januari, Amerika Serikat menerapkan program baru yang memungkinkan sebagian migran Kuba, Haiti, dan Nikaragua tinggal dan bekerja sementara, serta menambah jumlah warga Venezuela yang memenuhi syarat. Sebagian migran Amerika Tengah menyatakan seharusnya mereka juga memenuhi syarat untuk masuk program kemanusiaan itu.

Keputusan pemerintahan Biden, memperluas bantuan kemanusiaan bersyarat ke sebagian warga negara dari Kuba, Haiti, dan Nikaragua, membuat migran dari negara-negara itu di perbatasan Meksiko optimistis akan berpeluang masuk ke Amerika Serikat.

Migran Haiti, Marcjoel Henry mengungkapkan, “Jika kami bisa melakukannya dari Haiti, itu akan menjadi sesuatu yang sangat penting dan sangat relevan bagi kami.”

Migran menunggu untuk masuk ke bus pemerintah AS setelah melintasi perbatasan dari Ciudad Juarez, Meksiko, ke El Paso, Senin, 12 Desember 2022. (AP/Christian Chavez)

Rekan senegaranya, Natasha Surgui menyatakan, “Saya senang karena saya orang Haiti, dan atas nama semua orang Haiti yang ada di sini, saya merasa puas.”

Program kemanusiaan itu memungkinkan total 30 ribu migran per bulan dari ketiga negara tersebut dan Venezuela, mengajukan pembebasan bersyarat di Amerika hingga dua tahun. Mereka diizinkan bekerja, sementara permohonan suaka mereka diproses, asalkan mereka memenuhi persyaratan tertentu dan disponsori secara finansial oleh warga Amerika.

Migran Amerika Tengah tidak dilibatkan sehingga sebagian dari mereka merasa dikecualikan. Migran Honduras, Vilma Vázquez dan migran El Salvador, Erasmo Torres Chavarría mengatakan, “Mereka seharusnya juga memberi kami kesempatan masuk. Banyak orang Amerika Tengah yang datang ke sini karena lari dari kejahatan, dari kemiskinan. Kami layak untuk bekerja. Tujuan kami adalah bekerja agar kami bisa bertahan hidup.”

Migran mengatur diri mereka dalam barisan saat berjalan perlahan menuju perbatasan AS untuk menyerah kepada agen Patroli Perbatasan AS di Ciudad Juarez, Meksiko, Senin, 12 Desember 2022. (AP/Christian Chavez)

Fortino López Balcazar, pengacara dan aktivis hak asasi manusia yang berbasis di Meksiko, menyambut baik proses migrasi yang baru. “Hak untuk bermigrasi adalah hak asasi manusia, demikian pula hak untuk mendapatkan perlindungan bagi migran. Itu adalah bentuk perlindungan, karena kita tahu, kalau bermigrasi secara ilegal, mereka mengalami rangkaian pelanggaran hak asasi oleh otoritas dan masyarakat,” jelasnya.

Menurut Lopez Balcazar, kebijakan baru itu menghindarkan para migran dari penculikan, pelanggaran lain, dan bahkan kematian. Ia yakin kunjungan Presiden Biden ke perbatasan belum lama ini, adalah bentuk kepeduliannya terhadap kesejahteraan para migran.

Pembebasan bersyarat selama dua tahun memungkinkan migran mengajukan suaka dan mendapat tunjangan lainnya sementara tinggal di Amerika. Kalau mereka tidak diberi suaka setelah dua tahun, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan, mereka harus keluar dari Amerika. [ka/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.