Andri Parulian, International Marketing Director Warner Music Indonesia.

Sebagai perusahaan rekaman, Warner Music terus berupaya beradaptasi dengan teknologi dan pasar. Zaman sudah berubah. Kebiasaan dan perilaku orang dalam mendengarkan musik sekarang sudah sangat berbeda. Adanya akselerasi teknologi digital akibat pandemi semakin membuat cara orang menikmati musik jadi berbeda sama sekali.

Seperti diketahui, saat ini masyarakat papan atas hingga bawah bisa mengakses musik dengan mudah. Itu sebabnya, manajemen Warner Music pun ingin membuat formula yang tepat, agar audiens mau mendengarkan karya musik di era digital ini.

Tidak bisa dimungkiri, platform media sosial telah menjadi media yang ampuh. Pasalnya, saat ini dengan hanya berbekal ponsel plus paket data, lalu merekam lagu selama 30 detik atau 1 menitan saja, kemudian posting ke YouTube atau TikTok, seseorang sudah bisa tenar atau booming.

Memang, terjadinya pandemi ini membuat tidak ada batasan untuk memamerkan karya musik. Berbeda dengan kondisi dahulu, untuk bisa terkenal, seorang pemusik harus melewati banyak festival. Sekarang tidak ada batas lagi untuk memamerkan karya musik. Ini jadi peluang luas bagi calon bintang.

Perkembangan media sosial dan dukungan teknologi digital memudahkan measurement-nya, karena angka penontonnya terpampang nyata. Misalnya, dalam sebuah media sosial bisa diketahui sudah ditonton berapa juta kali dan berapa subscriber-nya.

“Maka dari itu, sebagai major label, kami harus terbuka terhadap perkembangan ini. Empat tahun lalu, kami tidak mengira TikTok akan sebesar ini. Bahkan, raksasa YouTube ataupun Instagram terkejar. Kami harus siap terhadap segala perubahan,” kata Andri Parulian, International Marketing Director Warner Music Indonesia.

Lalu, bagaimana Warner Music merespons perubahan peta permainan ini? Menurut Paru, panggilan keseharian Andri Parulian, ketika bicara musik, antara musik Indonesia dan internasional tidak bisa dikotak-kotakan. Di bawah Warner Music, antara lain bernaung grup musik Coldplay, Ed Sheeran, Charlie Puth, dan Dua Lipa.

Bicara berapa persen konsumsi musik internasional di Indonesia, Paru belum bisa mengeluarkan datanya. Namun, jika dibandingkan dengan musik pop dan dangdut, persentase musik internasional masih di bawah 40%. “Maka, kami harus melokalisasi profil artis-artis di bawah Warner Music agar lebih dikenal di Indonesia,” ujarnya.

Bagaimana cara melokalisasinya? Dengan adanya TikTok, yang memiliki fitur short music dan short video, misalnya, pihaknya memperkenalkan lagu-lagu mereka dengan menampilkan bagian chorus saja atau bagian yang mudah diterima telinga masyarakat Indonesia.

Halaman Selanjutnya

Selain itu, pihaknya pun memperkenalkan…


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.