Seorang perempuan Australia yang didakwa dengan sukarela memasuki wilayah Suriah yang berada di bawah kendali kelompok ISIS dibebaskan dengan jaminan, Jumat (6/1), sementara perdebatan mengenai risiko pembebasan para istri militan kelompok teroris bagi masyarakat terus berkecamuk di Australia.

Mariam Raad (31), adalah salah satu dari beberapa perempuan Australia yang suaminya tewas atau dipenjara setelah mereka bergabung dengan kelompok ISIS. Australia telah memulangkan empat perempuan tersebut dan 13 anak dari kamp pengungsi Suriah pada bulan Oktober.

Raad selama ini tinggal di kota Young, di negara bagian New South Wales, dan pertama kali ditangkap pada hari Kamis. Polisi federal dan negara bagian itu mengeluarkan surat perintah penangkapan di rumahnya dan rumah seorang kerabatnya di Sydney.

Raad didakwa pernah memasuki, atau tinggal, di wilayah Suriah yang berada di bawah kendali teroris, sebuah pelanggaran hukum federal. Jika terbukti bersalah, ia menghadapi hukuman 10 tahun penjara.

Persyaratan pembebasan dengan jaminannya termasuk menyerahkan paspornya dan larangan menghubungi siapa pun di penjara atau siapa pun yang terkait dengan ISIS. Ia juga dilarang memiliki senjata.

Pengacaranya, Moustafa Khier dari Birchgrove Legal, mengatakan kepada surat kabar Guardian bahwa pengadilan mendengar “banyak bukti” bahwa Raad telah berusaha keras mengintegrasikan kembali dirinya dan keluarganya secara positif dengan masyarakat.

“Mariam selalu mengatakan bahwa ia akan mematuhi perintah pemerintah,” kata Moustafa Khier kepada Guardian, sambil menambahkan bahwa lembaga-lembaga penegak hukum telah mengkategorikannya sebagai berisiko rendah dalam memutuskan untuk memulangkannya.

Menteri Keuangan Jim Chalmers mengatakan para perempuan yang kembali itu tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat tetapi pihak berwenang akan terus memantau mereka.

“Jelas ada proses yang harus dilalui sekarang,” kata Chalmers kepada Australian Broadcasting Corp (ABC).

Tetapi wakil pemimpin oposisi Sussan Ley mengatakan bahwa masalah yang dulu terbatas di beberapa bagian Sydney kini telah menyebar ke seluruh Australia.

“Kami tidak tahu di mana orang-orang ini telah dimukimkan kembali. Kami tidak tahu komunitas mana yang berisiko. Kami tidak tahu ke mana mereka keluar masuk,” kata Ley.

David Elliott, mantan pejabat tinggi kepolisian negara bagian itu, mengatakan ia telah menerima saran yang “sangat berbeda” dengan pemerintah mengenai Raad. Pihak berwenang setempat mengatakan kepadanya bahwa Raad adalah ancaman keamanan.

“Entah bagaimana, secara ajaib, ketika Anthony Albanese menjadi perdana menteri, para pengantin ISIS ini berhenti menjadi ancaman keamanan,” kata Elliott. [ab/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.